Search This Blog

Loading...

Tuesday, June 21, 2011

Selamat Jalan Datuk Hay...

Aku punya Datuk, yep, Datuk memang panggilan untuk Kakek. Tapi Datuk ku ini gak tua, paling awal 50 tahunan lah usianya. Namanya Abdul Hayyi Kamal atau biasa kami panggil Datuk Hay. Aku sendiri baru mengenal Datuk Hay sekitar 7 tahun yang lalu. Beliau masih saudara Papaku di Tanjung Johor, seberang kota Jambi. Walaupun begitu, pembawaan Datuk Hay yang akrab dan familiar, membuat aku merasa sangat dekat dengan beliau. Hingga waktu aku menikah tahun lalu, aku mendapat kabar kalau Datuk Hay sedang sakit dan tidak bisa ikut menghadiri acaraku. Tapi adik-adik dan anaknya, semua datang. Bahkan salah satu anaknya, stay di rumahku cukup lama dan ikut bernyanyi menghibur tamu yang datang ke rumah malam harinya.

Beberapa bulan lalu, aku ajak si Mas ke seberang bertandang ke rumah Datuk Hay sambil menjenguk beliau. Abangku Riri dan temannya, Dayat, juga ikut. Samapai di rumahnya, kami di beri tau kalau Datuk Hay sedang mengikuti pengajian di desa sebelah (memang, kami lupa memberi kabar kalau kami akan datang). Tapi ketika kami mau pamit dan berjanji akan datang lagi, saudara-saudara Datuk menahan dan bilang kalau Datuk segera datang diantar pulang oleh adiknya. Pertama melihat Datuk Hay, aku sempat kaget, Datuk yang dulu selalu ceria dan segar, terlihat kurus dan lemah. Tapi aku lega karena Datuk sendiri bilang kalau beliau sudah jauh membaik. Suara Datuk terdengar tegas seperti biasa, pertemuan kami penuh tawa karena Datuk memang orang yang santai sekali. Beberapa kali beliau menyindirku yang belum ber-jilbab juga. Aku ingat dengan jelas pesan Datuk "Rajin-rajinlah sholat dan baik-baik dengan suami, surga Lia nanti ada ditangan suami".... tidak seperti biasanya, kali ini sebelum pulang, Datuk memberi kecupan di dahiku.

Subuh, tepatnya jam 3 pagi, aku mendapat telpon yang memberi kabar kalau jam 1 tadi, Datuk Hay sudah dipanggil oleh Allah SWT. Inalillahi wainalillahi roji'uun.... Rasanya aku masih belum percaya kalau Datuk Hay sudah tiada. Saat takziah bersama si Mas dan Dayat tadi, melihat jasadnya terbaring, aku masih merasa beliau hanya tertidur. Ternyata pertemuan kami itu menjadi pertemuan terakhir dengan Datuk Hay, pertemuan yang indah dan ceria, menjadi kenangan indah untukku, juga si Mas yang baru pertama dan terakhir kalinya bertemu beliau.

Selamat Jalan Tuk, terima kasih untuk semua kebaikan hati dan nasehat-nasehatmu. Semoga amal ibadahmu di terima Allah SWT dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amiiiin..... al-Fatihah buat Datuk ku yaaa....

2 comments:

Keluarga Cinta said...

Turut berbela sungkawa, Lia, semoga Datuk Hay mendapat tempat yang indah di sisiNya..

Camelia said...

Makasih mbak Hanna *hug hug*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...