Search This Blog

Loading...

Monday, May 2, 2016

Anna Olson's Classic Chocolate Chips Cookies





Cookies lagi, cookies lagi.... yah, gimana yah. Abisnya aku emang suka cookies, dan keponakkan ku pun selalu menyambut hangat kalo aku bikinin cookies. Aroma cookies yang semerbak selalu berhasil menggaet mereka datang ke dapur. Ntah berapa resep cookies yang sudah aku coba di blogku ini. Biasanya pada akhirnya, bakalan resep Nestle Tollhouse yang jadi andalanku. Walaupun begitu, tiap ada resep cookies baru, selalu bikin aku penasaran plus gregetan buat nyobain. Begitu juga sama resep cookies yang satu ini. Resepnya Anna Olson  yang aku liat di youtube. Yoiiii....aku sekarang suka buka-buka youtube. Suka deh liat video bakingnya, baik dibawakan oleh famous baker maupun sama baker rumahan. Humm... I wish jaman pertama baking dulu youtube udah booming. Mungkin aku bakalan jadi youtuber, bukan blogger. Kayaknya lebih gampang ngejelasin resep lewat video daripada nulis di blog. Sayangnya, aku pernah dengar kalo masuk tivi badan kita kelihatan lebih besar 5 kilo. So, kayaknya video juga not for me deeh......hehehehe...(walaupun 5kg gak seberapa dibanding berat keseluruhannya...whoahahahahaha....*hiks*). Di samping itu, resep ini memang jadi pilihanku untuk dicoba kali ini, karena pembuatannya gak perlu pake mikser. Asik banget kan? kebetulan emang aku lagi malas bikin kotor dapur. Males beres-beresnya....

Aku suka banget sama Anna Olson, kalo sempat, aku sering lihat shownya di Asian Food Channel (AFC). Tapi jarang banget ngelihat keseluruhan, kalo gak ditengah, ya diujung acara. Kadang emang akunya yang gak sempat, kadang ditengah-tengah acara Ava minta ganti Babytv...*uhuuu* Nahh...berkah beberapa hari ini buka youtube mlulu, ketemu deh video classic chocolate chip cookies-nya Anna Olson. Banyak banget tips n' tricknya buat cookies yang enak. Ini penyebab utama aku suka sama acara baking yang dibawakan oleh professional dibidangnya. Selain penjelasannya gampang, juga banyak ilmu yang di dapat. Misalnya, udah lama aku mau cookiesku rada gembul, seperti gourmet cookies gitu. Nah, menurut Anna Olson, memang banyak yang bingung seperti aku. Pake resep sama, tapi kadang gembul, kadang gepeng. Itu semua disebabkan oleh kondisi mentega saat awal digunakan, Kadang ada yang menteganya dingin, ada juga yang menteganya udah lembut banget. Mentega yang suhunya gak dingin inilah yang sering bikin cookies melebar tipis. Untuk mengatasi apapun kondisi mentega diawal pembuatan, caranya simple banget. Setelah adonan jadi, bulatkan dan simpan di kulkas selama 1 jam. Simple kan?



Ini juga yang aku lakukan tadi. Setelah aku dinginkan dikulkas, baru aku panggang di oven. Sukaaaa banget ngeliat cookies ku gembul dan cantik. Bentuknya menggoda banget. Apalagi aku gak pake kacang, tapi coklat chipsnya aku lebihkan. Rasanya seperti cookies yang full coklat!. O ya, ada lagi yang bikin cookies Anna Olson ini beda dengan yang biasa aku buat, yaitu penambahan maizena/tepung jagung (corn starch) didalam adonannya. Jumlahnya gak banyak, hanya 1 sendok makan. Katanya, tepung inilah yang bikin cookies tetap lembut dibagian dalam. Menurutku ada benarnya juga, beberapa kali bikin kue kering, diresep yang pake maizena, hasilnya selalu lebih rapuh/lembut. Apapun theorynya, memang cookies Anna Olson ini terasa lembut didalam dan crunchy dibagian luar. Ini udah official jadi resep cookies andalanku yang baru, karena aku suka tekstur dan rasanya. Seperti yang tadi aku bilang, rasanya seperti gourmet cookies....lebih...mewah...

Tapi memang seperti resep luar lainnya, cookies Anna Olson ini terasa agak kemanisan. Kemanisan disini bisa karena jumlah gulanya, bisa juga karena jenis gulanya. Di video aku lihat Anna pake light brown sugar yang warnanya gak begitu gelap. Sementara aku pake brown sugar biasa yang warnanya lebih tua/gelap (ini satu-satunya jenis brown sugar yang aku temui di toko bahan kue, gak ada pilihan lain). Mungkin nanti saat bikin lagi gulanya akan aku kurangi. Aku juga pengen nyoba resep ini ditambah oatmeal. Tadi memang aku sengaja gak pake kacang atau campuran lainnya, karena ini cookies pertama yang aku buat untuk Ava, putriku tersayang. Aku pengen tau dulu gimana reaksinya sama cookies...Aaahh....Ava, sudah besar sekarang. Sudah pintar bercerita, lincah dan gembul. Hobinya saat ini bersepeda didalam rumah dan makan sop ayam dan berceita-cita mau jadi princess kalau sudah besar...hehehe..Tanggal 17 bulan ini nanti Ava genap berusia 3 tahun. Tadinya aku ragu Ava bakalan suka atau tidak sama cookies, karena Ava kurang nge-fans sama coklat (dia lebih suka es krim dan permen). Tapi alhamdulillah, Ava langsung bilang "Yummy, Ma!"....cihuuuyyyyy...

Disini aku tulis resep dengan bahasaku aja ya... sebelum bikin, jangan lupa sama standar dasar bikin cookies. Jangan dipanggang terlalu lama. Gak usah khawatir kalo saat dikeluarkan dari oven cookies terlihat belum matang, saat dingin, cookies akan mengeras sendiri. Makin lama di oven, makin keras cookies nantinya saat dingin. Saat keluar dari oven, biarkan sebentar (lk. 15 menit) diloyang, baru pindahkan di rak kawat sampai suhu ruang. . Daaaannnn....kalo mau lihat videonya, klik aja linknya, gak rugi karena bisa lihat tips n' tricknya.



Classic  Chocolate Chip Cookies
Anna Olson


Bahan : 

1/2 cup mentega  (115 gr)
1/2 cup gula pasir halus
1/2 cup brown sugar
1 btr telur
1 sdt vanilla extract
1 1/4 cup terigu protein sedang
1 sdm maizena
1/2 tsp baking soda
1/2 tsp garam
1 1/2 cup chocolate chips (aku pake 2 cup)
1 cup kacang pecan panggang (aku gak pake)

Caranya :
  • Ayak bersama terigu, maizena, baking soda dan garam. Sisihkan.
  • Dalam wadah terpisah, campurkan mentega, gula pasir dan brown sugar. Aduk rata dengan spatula hingga menyatu dan creamy.
  • Masukkan telur dan vanilla extract, aduk rata.
  • Tambahkan campuran tepung, aduk rata.
  • Tambahkan chocolate chips, aduk rata.
  • Ambil adonan, bulatkan sesuai keinginan. Susun rata didalam wadah (gak papa susunannya rapat karena belum untuk dipanggang). Simpan dikulkas selama 1 jam.
  • Keluarkan adonan yg sudah dibulatkan dari kulkas. Susun dalam loyang yang sudah dilapis kertas anti lengket atau silikon mat. Beri jarak yang cukup.
  • Panggang dalam oven suhu 325 F atau 160 C selama lebih kurang 15 menit. (ovenku, gas mark 4, 20 menit)


Friday, April 29, 2016

Alat Membuat Kue (1) : Alat Ukur

Akhirnya...
Aku sempatin juga nulis blog dengan topik ini. Sebenarnya ini sudah lama banget di request teman-teman yang baca blog-ku. Sejak diawal-awal aku masih heboh-hebohnya nge-blog dulu. Baru bisa terwujud sekarang disaat akupun udah mulai jarang nge-blog. Ada yang nanya kegunaan alat, ada yang nanya peralatan baking buat pemula, bahkan ada yang minta aku nulis tentang dapurku. Selama ini belum sempat aku penuhi karena selain sibuk, aku juga bingung gimana format penulisannya supaya pas dan gak kepanjangan n' ngebosenin. Lagipula aku punya blog satu lagi Cameliakitchen yang membahas beberapa kitchen gadget. Tapi mungkin kurang personal yah, jadi masih ada aja yang menanyakannya di blog ini. Kali ini gak hanya personal, tapi juga lebih dalam....*duileeee apa coba!*

Jadi kali ini aku putusin untuk membuat berseri aja.... supaya bisa dibahas per-kategori. Dengan cara ini mudah-mudahan tidak hanya bermanfaat buat yang baru mau belajar baking atau pemula, tapi juga buat yang udah pro dan ingin berdiskusi atau memberi masukan tentang peralatan yang aku pakai didapurku. Karena menurutku, peralatan membuat kue ini relatif sekali, kebutuhan orang bisa berbeda-beda. Dulu waktu masih coba-coba baking, aku beli alat seadanya saja. Trus mulai ikutan milis dan bertemu teman-teman yang punya hobi sama. Peralatanpun mulai bertambah. Sekarang, aku mulai tau apa yang aku butuhkan dan gak terlalu tertarik lagi beli kitchen gadget yang imoet-imoet. Sekarang aku lebih fokus ke fungsinya. Mungkin karena faktor usia juga kali ya....*ehemmm...udah tua euy!* jadi gak semenggebu-gebu dulu lagi buat beli peralatan baking. Kalau ada ide, maupun saran, silahkan lho ya di komen.

Kita mulai dengan alat ukur. Menurutku alat ukur ini termasuk yang wajib punya. Gak harus timbangan digital yang super canggih, timbangan manual yang murah meriah juga udah ok. Kalo budget belum cukup juga beli timbangan? cari deh gelas ukur atau measuring cup, cuuussss....siap diajak bikin kue dari resep yang pake ukuran cup. Biasanya resep dari Amerika mayoritas menggunakan cup. Yuk, kita bahas alat ukur satu persatu.

 Timbangan


Timbangan digital tentu akan bikin acara baking kita lebih mudah. Semua bahan yang dicampur, cukup ditimbang dengan satu wadah. Apalagi dengan timbangan digital, kita bisa mengukur bahan dengan unit terkecil (1 gr). Kita juga bisa merubah ukuran gram menjadi pound (Lbs) jadi gak perlu konversi lagi. Saat membeli timbangan digital, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan beratnya. Ada yang hingga 3 kg (untuk dapur biasanya segini udah cukup) hingga 5 kg. Selain itu juga daya tahan batrenya juga bisa dipertimbangkan. Timbangan digital ada yang memakai batre tipis seperti koin, ada juga batre kecil biasa. Biasanya batre koin lebih tahan lama dibanding timbangan yang pake batre biasa.

Kalau ada rejeki lebih, boleh beli timbangan yang paling bagus. Tapi, yang biasa saja juga fungsinya sama dan cukup tahan lama juga (mengingat ini cuma timbangan, kecil kemungkinan akan dibanting...hihihihi) Punyaku aja sampe sekarang masih oke, usianya hampir 8 tahun. Dari warnanya waktu beli putih banget, sekarang udah kuning gading saking lamanya. No problemo, karena walaupun udah berubah warna, yang penting bersih dan masih berfungsi dengan baik. Ku anggap aja ini timbangan vintage...*kekinian*...ehem..

Timbangan analog (manual) juga gak bisa dipandang sebelah mata. Cukup banyak resep di blog ini yang aku bikin dengan timbangan analog. Harganya beragam dan pilihannya banyak. Buat yang masih coba-coba baking atau hanya sesekali, timbangan manual pilihan yang tepat. Malah saranku, walaupun punya timbangan digital, timbangan manual jangan ditinggalkan. Ini bisa jadi penyelamat disaat baking, batre timbangan digital tiba-tiba mati. Apalagi ketika baking tengah malam....(pengalaman pribadi...hiks! one of the things I learned the hard way...*tears*)

Kekurangannya, ya memang harus selalu di-adjust dulu tiap kali mau digunakan, puter dikit kekiri, puter lagi kekanan...sampe arah jarumnya pas...hehehe... selain itu, harus selalu stabil. Senggol dikit, lha jarumnya udah berubah. Makin sering digunakan, makin kita terbiasa melihat arah jarumnya, jadi makin cepat buat nimbang-nimbang. Lumayan kan...



Measuring Cup/Mangkok ukur


Namanya bisa measuring cup, mangkok ukur ataupun mangkok takar. Pertama baking dulu,  measuring cup ini lumayan sulit dicari, hanya ada ditoko yang menjual peralatan import atau di mal-mal premium. Tapi sekarang hampir semua toko bahan kue maupun supermarket menjual measuring cup ini. Kalo gak ada juga, coba iseng lihat gelas  ukur cairan biasa, terkadang ada yang pake ukuran cup juga lho. Aku malah pernah lihat gelas ukur dari plastik yang murah meriah tapi dilengkapi dengan ukuran cup. Saat beli measuring cup, coba dihitung jumlah cupnya. Semakin banyak pilihan semakin baik. Rata-rata dapat 4 cup ( ukuran 1 cup, 1/2, 1/3, 1/4) walaupun dari 4 cup ini sudah cukup untuk mendapatkan semua takaran cup, tapi ada juga yang sampai 5 ditambah ukuran 1/8. Aku malah punya cup yang udah tua banget, yang aku beli di supermarket di Atlanta dulu (era 95-an...hiiiks tuanya dakuuuu...), walaupun dari plastik murah, tapi ada 6 cup ( ukuran 1 cup, 3/4, 2/3, 1/2, 1/3, 1/4). Ini cocok buat aku yang matematikanya pas-pas-an...hehehehe

Untuk bahannya juga macam-macam. Ada yang dari stainless, plastik, silikon sampe keramik. Bentuknya juga lucu-lucu. Tapi kalo aku lebih suka yang dari plastik aja karena ringan, dan modelnya juga biasa saja. Cara pakainya juga simple. Bahan yang diukur tinggal diratakan dengan cupnya. Dulu aku punya yang bentuknya seperti kembang dan berwarna-warni. Tapi susah buat dibersihkan karena ada lekukkannya dan kadang tepung juga suka nempel disudut-sudutnya.

Apapun bentuk dan bahannya, yang penting fungsinya. Lagian kalo yang murah sudah bisa memenuhi kebutuhan, maka gak ada alasan juga buat beli yang mahal. O ya, buat yang suka nanya 1 cup berapa gram, please deh, belilah alat ini atau coba cari konversinya online. Kalo nanya sama aku, percuma saja, karena aku gak ingat. Lagi pula, 1 cup tepung dan 1 cup kacang almond, tentu beratnya beda. Gak mungkin aku hapal semua. Apalagi yang minta aku merubah ukuran resep dari cup ke gram...ampun deh, gak sanggup! *angkat tangan*

Sendok Ukur/Sendok Takar


Walaupun bisa dengan sendok makan dan sendok teh biasa di rumah. Untuk bikin kue, aku selalu berpatokan pada sendok ukur, supaya bisa dapat ukuran yang sama. Misalnya untuk jumlah coklat bubuk dalam adonan kue. Sendok ukur sama dengan measuring cup, terdiri dari beberapa ukuran. Mulai dari 1 sendok makan, sampai yang paling kecil, a pinch (sejumput). Ada yang plastik, dan ada juga yang stainless. Kadang ada juga measuring cups yang dalam rangkaiannya dilengkapi dengan sendok ukur, two in one, yeah!

Sama seperti measuring cup, aku lebih suka sendok ukur yang biasa saja. yang pemakaiannya gak rumit-rumit. Ada beberapa sendok ukurku yang semula aku kira mempermudah, ternyata ribet saat mau dipakai. Contohnya, ada sendok ukurku yang hanya terdiri dari satu sendok. Kita tinggal geser tutupnya untuk setiap takaran yang dibutuhkan. Ribetnya, saat tangan kanan pegang mikser, tangan kiri jadi sibuk geser-geser tutup sendok. Sebel. Malah daripada pake sendok ukur yang ribet itu, aku lebih suka pake sendok rumah aja.Tapi tentu gak bisa exact ukurannya.


Gelas Ukur/Gelas Takar 


Atau dikenal juga sebagai measuring jug. Ini mungkin lebih familiar dibanding measuring cup. Lebih sering kita temukan. Biasanya digunakan untuk meangukur cairan dalam mililiter. Ada beberapa gelas ukur yang juga menuliskan bahan dengan ukuran gram (misalnya Flour 100 gr), tapi itu jarang banget digunakan. Karena aku sendiri sampe sekarang masih percaya sama timbangan untuk ukuran berat dan hanya menggunakan gelas ukur untuk ukuran liter. Dibeberapa gelas ukur juga ada lho untuk ukuran cup nya. Jadi yang gak punya measuring cup, bisa juga pake gelas ukur ini. Malah kalau sudah ada measuring jug yang udah ada cupnya, gak perlu terburu-buru beli measuring cup. Praktis banget.

Sama seperti alat dapur lainnya, ada harga, ada rupa. Gelas ukur ada yang dibuat dari bahan gelas tahan panas (contoh pyrex), plastik dan akrilik. Tergantung mana yang suka aja. Kalo yang bahan kaca, walaupun berat, bisa digunakan untuk mengukur cairan panas, bahkan mendidih sekalipun, tanpa rasa khawatir. Juga mudah dibersihkkan setelah digunakan untuk mengukur bahan minyak. Aku sendiri lebih suka yang bahan akrilik, karena ringan dan cukup stabil untuk bahan panas, juga mudah dibersihkan. Bahan plastikpun cukup bagus, apalagi kalau perlu yang ukuran besar (1 liter keatas) karena selain harganya murah, pilihan ukurannyapun banyak. Pastikan saja gelas ukurnya terbuat dari plastik yang aman untuk makanan.


Thermometer



Thermometer ini bukan buat mengukur suhu udara ya, tapi thermometer dapur. Sengaja aku bahas terakhir karena memang gak begitu penting amat. Kecuali bagi yang suka bikin kue yang menggunakan cairan panas. Aku sendiri memakai thermometer dapur ini untuk membuat marshmallow dan macaroon (yang sampe sekarang gagal melulu). Thermometer dapur sendiri ada bermacam-macam, ada yang untuk mengukur suhu daging-dagingan yang dipanggang, ada juga termometer permen (candy) atau gula panas. Sama seperti timbangan, termometer juga ada yang digital dan ada juga yang manual.

Aku punya yang digital, kelebihannya angkanya jelas tertera dan punyaku ini termasuk yang bisa digunakan pada daging dan juga untuk cairan. Tapi masalahnya, termometerku ini memakai batre jam. Terpaksa dibawa ke toko jam buat ganti batre. Malesnya lagi, karena jarang digunakan, aku jadi gak ingat berapa lama udah ganti batre. Giliran mau digunakan batrenya abis. Sekarang aku lebih suka pakai thermomenter gula yang manual aja. Yang bacanya sama seperti baca thermometer Ava kalo lagi demam...hehehehe... So far, aku cukup puas. Harganya lebih murah 3x lipat dari thermometer digital, plus bebas batre. Lagi pula, aku hampir gak pernah mengukur suhu daging saat dipanggang, cuma buat ngukur gula doank. Jadi ini sebenarnya sudah lebih dari cukup buat ku.


Oke deeehhh.... cukup sekian dulu sesi tentang pertama peralatan baking, yang ngebahas segala alat ukur yang bisa digunakan di dapur kita. Duileee... setelah aku baca, ternyata panjang juga ya celotehanku kali ini. Padahal gak semua isi hati lho yang dikeluarkan...*yeeee*...hehehehe... oh, well...mudah-mudahan yang baca blogku gak ketiduran yaaaa....

Saturday, January 23, 2016

Milky Crispy Almond



 Heiiii...heiiii...
Wuiiihhh...last post, hampir setahun yang lalu... hiks hiks... selain kesibukan, memang rasanya nge-blog udah gak bisa keep up dengan kegiatan lainnya. Gak sepraktis instagram yang tinggal jepret dan gak perlu berkata-kata. Tapi memang ada sisi lain dari nge-blog, bisa lebih personal dan bisa terdokumentasi dengan baik. Apapun itu, lately emang aku jarang banget ngeblog, baking juga udah hampir lupa gimana caranya saking lamanya gak bersentuhan sama oven. Kesibukan yang menguras waktu, tenaga, dan fikiran (plus perasaan...hehehe). Tapi, I am glad its over. Walaupun hasilnya belum berhasil, tapi aku bersyukur sudah mencoba sebaik-baiknya dan dengan cara yang baik pula. Mungkin memang Allah lebih tau yang terbaik untuk aku. So, now I can move on. Kembali menjadi the ordinary me. Tetap harus selalu bersyukur, termasuk bersyukur akan waktu untuk fokus untuk diri sendiri dan keluarga tentunya.

Baking yang semula sekedar hobi, sekarang jadi penyelamat untuk mengisi kebosanan sambil menunggu pulih kembali. Bukan dari kesibukkanku (ntar dikira depresi pulak...hahaha) tapi pulih dari sakit usus buntu! ya Allah...beneran deh, kapok sekapok-kapoknya gak ngikutin omongan dokter yang udah nyuruh aku operasi usus buntu secepatnya. Tapi karena banyaknya kegiatan, ditunda-tunda terus. Eeeehh...giliran mau liburan ke Jakarta, malah harus masuk rumah sakit. Parahnya lagi, operasi usus buntu yang tadinya simple, malah jadi rumit karena ususnya udah keburu pecah dan infeksi. Jadi deh operasinya ditengah perut....hiks! Alhamdulillah semua akhirnya berjalan lancar. Aku bersyukur sekali punya orang tua, suami dan keluarga yang sayang sama aku. Semua memberi support aku supaya cepat sembuh dan semua membantu mempermudah urusanku selama di rumah sakit. Alhamdulillah ya Allah....


 Anyway, back to baking...
Tadinya aku pede abis kalo kali ini bisa posting dua, crispy almond yang aku bikin kemaren dan macaron yang aku bikin sore tadi. Ternyata, terlalu muluk! macaronnya gagal lagiiiii *nothing new*. gak tau dah salahnya dimana. Padahal udah maksa si Mas anterin aku beli thermometer (yang lama abis batre) buat nyoba Italian method yang pake gula panas. Hasilnya sih kayaknya udah betul, tapi pas dipanggang kakinya hanya naik separuh. Loyang berikutnya malah aku putar supaya panas rata. Tetap aja gagal...ntar deh kapan-kapan di coba lagi *bete*. Naaaaahhh...mending ngebahas yang berhasil aja deh, berhasil dengan cantik malah...*ehem*. 

Crispy Almond atau Almond Crispy sih...?
Either way, yang pasti kepingan tipis ini berhasil bikin aku kesengsem setahun belakangan ini. Bermula dari kak Ika yang bawa oleh-oleh crispy almond dari Surabaya, hingga booming juga di my milis tercinta NCC. Rasanya manis renyah dan almond yang menambah tekstur bikin kita gak pengen berhenti saat mencicipi. Udah lama juga pengen bikin sendiri, tapi gak pernah kesampaian. Nah, pas di Jakarta abis keluar dari rumah sakit, aku janjian sama temenku yang baik hati, Arni. Itu lho, yang punya Viani's Cookies, buat ngeteh bareng di Markas NCC sambil kangen-kangenan sama ketua NCC Bu Fatmah yang udah lamaaaa banget gak ketemu. Naaah, kita juga ngajak si Lily Maknya Tyu yang punya Tyu bakingtools shop.

Waktu itu aku juga nanya Arni via fb dimana beli cetakan almond crispy, langsung deh diarahin ke Lily, horeeeee....sekalian aja aku pesen ke Lily buat dibawain sekalian pas nge-teh bareng. Singkat kata, pas ketemuan di Matraman itu asik banget deh, ngobrol panjang, curhat, sambil ketawa ngakak. Aku juga dibawain Arni almond crispy green tea buatannya. Enyaaaak banget, renyah. Sisanya aku bawa pulang dan aku kasih si Mas cobain, tenyata dia juga suka banget, Ava pun suka!. langsung nanya resepnya sama Arni...cihuuuyyy dapat! Tapi karena keterbatasan bahan yang ada di Jambi, jadi resepnya aku rombak dan aku bikin rasa vanilla saja. Beberapa bahan ada yang di ganti dan ada yang memang dihilangkan. Walaupun begitu, kemarin semua langsung ludes dan semua juga setuju kalo udah cukup enak. Semua dalam artian yang nyobain yaaa...kebetulan di rumah lagi banyak keponakan yang ngumpul (Dea, Nia, Tia, Ade, Maskun) plus si Mas, little Ava, kak Ika dan abangku, Riri (full house yeeee...hehehehe). 


Eits lupa, aku bikin ini gak sendiri lho. Dibantu sama Dea, mulai dari nyetak, taburan almond dan manggang di oven, berdua sama Dea. Aku coba baking dengan dua cara, pertama dengan kertas baking, hasilnya agak susah dilepas dan banyak yang patah. Padahal kertasnya keren lho, dibikin kayak almunium foil gitu, tinggal sobek aja. Tapi tetap aja hasilnya kurang menggembirakan....atau emang aku yang salah pake' nya ya? *wonders*.... selanjutnya aku pake silikon mat (biasa disebut silpat), nah...baru deh gampang dilepas. Belakangnya jadi rapi dan licin... Selain masalah alas, mencetaknya pun lumayan tricky. Aku kewalahan mencari cara supaya rapi, tetap aja kurang pas. Ini yang bikin aku mikir kalo memang mau bikin crispy almond rutin atau untuk jualan (profesional look), sebaiknya ikutan deh kursusnya di NCC. Karena setelah jadi, punyaku gak sekeren, bahkan jauuuh banget kalo dibanding dengan punya Arni. Kalo buatan Arni baik bentuk maupun tebal tipisnya bisa seragam semua. Begitu juga teknik pemanggangan, perlu trial dan error.

In conclusion... 
Hasil kali ini aku udah cukup puas. Tapi aku juga masih penasaran mau coba bikin lagi. Mungkin dengan rasa ataupun teknik yang berbeda. Karena waktu aku lihat di youtube, ternyata banyak banget resep dan cara pembuatannya. Ada yang adonannya terlihat kental dan padat seperti adonan kue lidah kucing, ada juga yang encer yang cukup dituang dan ditipiskan dengan sendok. Teknisnya juga macam-macam, ada yang cuma pake putih telur, ada yang telur dan bahan lain dipisah, ada juga semua bahan dicampur jadi satu dan di mikser sekalian. Ini nih yang bikin penasaran, dan tentu saja akan kulakukan kalo gak lagi malas atau lagi gak ada resep lain yang menarik buat dicobain *heehee*.

Ini resep yang aku pake kemarin. Selamat mencoba dan good luck!



MILKY ALMOND CRISPY
by. Camelia (modifikasi dari resep Almond Cheese Crispy NCC)

Bahan :
5 butir telur
150 gr gula pasir
140 gr terigu protein sedang (eg. segitiga biru)
2 sdt perasa susu
2 sdt emplex
150 gr almond slice disangrai/dioven matang

Caranya :
  • Kocok telur dan gula hingga kental berjejak
  • Masukkan terigu, emplex sambil diayak
  • Aduk rata dengan mikser kecepatan rendah, masukkan perasa susu, mikser lagi.
  • Alasi loyang dengan baking sheet/silpat
  • Cetak adonan, taburi almond.
  • Oven dengn suhu 140C sampai matang.

PS : Maaf ya, untuk sementara waktu foto-foto diblog pas-pas-an banget. Karena udah lama gak nge-blog peralatan buat foto juga udah ntah dimana. Jadi cukup pake foto iphone dulu sampai semua kembali normal.

Thursday, February 5, 2015

Caramel Nougat Brownies



Well...well...welll... sepinyooooo...

Ok, kali ini gak ada alasan kenapa gak ngeblog setelah sekian lama....hellooooo... Ava, my princess, udah hampir 2 tahun, jadi pake alasan anak gak pas juga..hehehehe... sebenarnya ada beberapa kali baking. Ntah kenapa malas banget nge-blog. Memang sejak banyak sekali pilihan social media untuk berbagi dengan teman-teman, nge-blog jadi aktifitas yang lumayan bikin malas. Mesti foto cantik, buka laptop, ngetik dan lainnya. Sementara kalo lewat sos-med, tinggal foto, upload dan done!

Tapi jauh dihati kecilku *ciee..ciee* sesekali ada juga fikiran "blogku apa kabarnya ya?" atau "duh, resep ini harus di tulis di blog deh!"... tapiiiii...ya ituuuu cuma kepikiran doank! beberapa kali memaksakan diri untuk baking dan foto, eeeh...males nulisnya. Gagal deh. Tapi sepertinya hal ini tidak hanya terjadi pada diriku seorang. Ada beberapa teman nge-blog dulu yang juga sudah angkat tangan sama blognya. Memang kalau di Facebook, Instagram dan Path lebih interaktif. Tapi memang hanya nge-blog yang bisa mengungkapkan isi hati yang paling dalam...*uhuk uhuk*..


Anyway...
Kemarin si Mas (sekarang panggilannya Ayah Ava, soalnya kita sempat kaget Ava sempat ikutan manggil "mas"..hehehehe) pergi seharian. Plus yu' Yati yang bertugas menemani Ava juga izin mau jenguk sodaranya yang sakit, jadilah Mama sama Ava dirumah main berdua. Pas tengah hari Ava udah keliatan bosen, Mama pun bosen dimintain Ava ganti lagu terus di tabnya. Jadi Mama ajak aja Ava bikin kue di dapur. Seperti biasa, Ava bentar doank trus lebih suka main sama papercup dan cupcases dan bikin dapur berantakan. Tinggal Mamanya yang menyelesaikan urusan baking. Kenapa brownies? well.. Aku masih bingung handmixerku dimana, apa aku salah taruh atau emang aku kasihkan orang. Sementara mau pake mixer gede, males banget rasanya. Lagian prinsipku, kalau terkena baking blues, mulailah dengan brownies...mudah, tingkat keberhasilannya tinggi, bikin hepi...hehehehe


Varian brownies ini sudah lama aku rencanakan. Aku memang kepengen banget makan brownies yang fudgie dan ada caramelnya. Kebayang deh brownies nyoklat dengan melted brownies di dalamnya. Jadi waktu ke supermarket beberapa waktu lalu, aku udah mulai beli beberapa coklat yang ditengahnya ada caramelnya. Untuk memperkaya rasa dan teksturnya, aku tambahkan juga beberapa coklat nougat kacang.


Hasilnya, brownies yang fudgy dan karamelnya terasa melimpah. Rasa coklat yang dominan ditambah karamel, seperti coklat toffee yang lumer di mulut. Kali ini lumayan puas banget dengan browniesnya karena sesuai dengan bayangan yang ada dikepalaku. Hum...jadi gak sabar pengen nyoba dengan jenis coklat lainnya. Tadi pas lagi jalan dengan temanku Ina dan Christine, dapat ide dari Christine untuk bikin brownies dengan potongan coklat mede didalamnya...huuummm.... next time wajib coba juga tuh!

Eeeiiittsss....maaf banget fotonya standard abis. Soalnya cuma difoto pake iphone doank. Abisnya udah lama gak pake kamera, ntah kenapa kemaren jadinya malah lebih parah. Lupa banget gimana caranya biar oke. Mesti belajar lagi kayaknya...hiks! so...dari pada posting gak ada foto, ala kadarnya aja yaaa....




Caramel Nougat Brownies
Camelia


Bahan :
100 gr Mentega
150 gr Dark cooking chocolate
75 gr Gula kastor
2 btr Telur, kocok lepas
100 gr Terigu
Coklat karamel kacang, coklat karamel, jumlah sesuai selera, potong-potong yang ukurannya besar.

Caranya :

  • Cairkan mentega dan coklat (aku biasa pakai cara au bain marie). Angkat dari api, aduk rata hingga suhunya turun.
  •  Masukkan gula kastor, aduk dengan whisk hingga rata.
  • Tambahkan telur, aduk rata
  • Tambahkan terigu, aduk rata
  • Tuang separuh adonan kedalam loyang 20x20.
  • Susun coklat karamel diatasnya
  • Tutup dengan sisa adonan
  • Panggang di oven lk. 20 menit 
  • Dinginkan sebelum dipotong.

*** E N J O Y ***

Wednesday, April 30, 2014

Salted Caramel Cupcake


Hellooooooo....
Ok ok ok.... Janjinya mau rajin baking tapi ternyata sama aja dengan sebelum janji....jarang banget baking... Hiks! Well sebenarnya ada beberapa kali sebelum ini, bikin cupcakes juga, tapi kurang hepi sama hasilnya. Jadinya lamaaaaa banget baru mulai lagi... So sorry deh ya...

Anyway, kemaren bikin salted caramel cupcake ini, ntah kenapa lagi suka banget sama kombinasi karemel plus fleur de sel. Mulai dari macaron, cakes sampe minuman coklat pun pilih yang pake salted caramel. Nah, udah tau donk kalo aku bikin macaron gagal melulu dan lagi gak mood sekale sama yang namanya high risk....*hihihihi*.. jadi aku coba bikin cupcakesnya aja. Aman dan gak pake ribet. O ya, dulu aku pernah bikin coklat cupcake pake salted caramel juga and I'm not a fan! Setelah aku pikir-pikir *sok mikir*, aku suka fleur de sel dipadukan sama caramel yang creamy. Jadi begini, kalo perpaduan antara karamel yg dari gula tok, aku gak begitu suka. Tapi kalo fleur de sel bergabung dengan karamel+cream atau karamel+butter, baru pas! Ribet ya? Mudah-mudahan ngerti maksudku...hehehehe...

Naaah... Ada lagi masalahku dengan karamel, kalo too much juga, aku eneg. Ini yang terjadi dengan cupcake yang aku ceritakan tadi. Beberapa waktu lalu aku bikin salted caramel cupcake pake resep yang aku dapat online. Cara bikinnya gampang banget, gak pake mikser, tinggal di campur aja. Tapi masalahnya, waktu dimakan dengan frosting caramel juga, wuiiih rasanya jadi lebay buatku. Bayangin aja, cake caramel dengan caramel frosting...too over the top! Super jenuh makannya. Satu aja udah full sekalee.... Lalu aku bandingkan dengan makanan yang pake salted caramel yang aku suka. Baru deh aku tau kalo aku suka salted caramel sebagai topping! Rasanya jadi lebih istimewa kalau tidak mendominasi keseluruhannya. Itu sebabnya, kali ini buat cupcakenya aku pake vanilla cake aja, buttercreamnya aja yang salted caramel. Menurutku, ini lebih balance, rasanya jadi lebih simple dan gak too much of everything.


Buttercreamnya aku reka sendiri aja dengan cara membuat buttercream biasa yang sering aku bikin. Biasanya aku bikin buttercream simple dengan perpaduan mentega putih plus susu kental manis (1 :1). Begitu juga kali ini. Cuma untuk mentega putihnya, sengaja aku ganti dengan salted butter, dan susu kental manisnya sudah dikaramel-kan terlebih dahulu. Aku milih pake butter beneran karena suka sama cita rasanya yang menurutku gak tergantikan, so milky dan creamy. Jadi pas kalo dipadukan dengan rasa karamel karena ada aroma butter yang dominan juga. Lagian, buttercream begini lebih fleksible, bisa disimpan kalo mau diolah buat yang lain. seperti buat frosting cake atau filling macaron misalnya...(siapa tau aku mendadak dapat ilham buat nyoba bikin lagi...hehehe)
Untuk karamel, aku bikin seperti bikin  dulce de leche yang duluuuuu banget pernah aku bikin. Gak pake ribet, gak perlu nyari cream dan gak perlu mengira-ngira kalo karamelnya item manis atau gosong... Hasilnya menurutku lumayan enak dan gak eneg. Tinggal menyesuaikan jumlah fleur de sel dengan rasa yang diinginkan, atau tinggal ditaburkan diatasnya tanpa perlu dicampur. Hummm.... Jadi pengen nonton buat beli popcorn...*lho?*.....hihihihi....

Kalo cupcake vanillanya, aku nyoba resep baru yang aku dapat disini. Walaupun aku udah ada resep cupcake vanilla andalan, teteup pengen nyoba resep baru. Sekalian lagi nyari-nyari konsep kue ultah pertama Ava bulan depan...duh, senangnya nyiapin persiapan ultah buat my little angel. Saking semangatnya, ultah masih bulan depan, tapi penak-perniknya udah mulai disiapin dari sekarang...mulai dari undangan, goody bag, menu, sampe balon-balon...aiiihhh....lucu-lucu deeeh...

Nah, dibawah ini resepnya aku tulis ulang, kalo mau detailnya, silahkan aja kunjungi blog sang pemilik resep. Rasanya lumayan, gak beda jauh dari resep cupcake andalanku itu. Walaupun aku harus mengurangi jumlah gulanya next time. Seperti resep luar lainnya, memang kadang gula yang digunakan dalam satu resep jumlahnya gak tanggung-tanggung...

Ini resepnya ya....

VANILLA CUPCAKES
dari Cookies and Cups

Ingredients
  • 1 3/4 cup cake flour 
  • 1 1/4 cup all purpose flour
  • 1 3/4 cup sugar
  • 2 1/2 tsp baking powder
  • 1 tsp kosher salt
  • 1 cup butter, room temperature, cut into 1/2 inch cubes
  • 4 eggs
  • 1 cup milk
  • 2 tsp vanilla
How to Make
  1. Preheat oven to 350°
  2. Line cupcake pan with cupcake liners.
  3. In bowl of stand mixer add the first 5 ingredients and stir together using paddle attachment for about a minute. Enough to get them nice and combined.
  4. With mixer on low, drop in butter, a few cubes at a time continuing until all butter is in and mixer resembles coarse sand.
  5. Add eggs one at a time on low speed.
  6. With mixer still on low slowly pour in milk and vanilla. Turn mixer to medium and beat for 2 minutes until batter is smooth, scraping sides of bowl as needed.
  7. Fill liners 2/3 full (about 1/4 cup batter) and bake for 15-20 minutes until centers are set and toothpick comes out clean.
  8. Allow to cool completely before frosting.


MEMBUAT CARAMEL SAUCE

1 kaleng susu kental manis, buang labelnya. Masukkan ke dalam panci berisi air (jumpah air harus lebih tinggi dari kaleng susu), Didihkan diatas kompor. Hati-hati dan jangan ditinggalkan. Rebus selama paling sedikit 1 jam. Semakin lama di rebus, warnanya nanti akan semakin gelap. Tapi jangan direbus lebih dari 4 jam. Setelah selesai, matikan kompor, biarkan didalam panci hingga dingin. Kaleng jangan dibuka hingga betul-betul suhu ruang, buat sehari sebelumnya bila perlu. Setelah betul-betul dingin, baru buka kalengnya dan siap digunakan.


SALTED CARAMEL BUTTERCREAM
by. Camelia

200 gr salted butter
200 ml saus karamel (seperti yang dibuat diatas)
1 sdt fleur de sel (kurangi kalau nanti juga akan ditaburkan diatas cupcake)

Caranya :
Mikser mentega hingga lembut, masukkan saus caramel dan fleur de sel, kocok terus hingga menjadi buttercream.



Ava n' her first cupcake!








Tuesday, January 28, 2014

Tekwan



Maunya sih update blog terus, rutin, rajin bikin-bikin kayak dulu...tapi mau gimana lagi ya. Kegiatan mulai banyak, dan Ava juga sudah mulai banyak kebutuhannya, mulai dari bikin makanan bayi, ngasih makan sampe nemanin main. Seperti Ibu-Ibu yang lain, kayaknya kalo ada waktu bebas, maunya ngabisin sama anak aja...suka deh liat Ava ketawa-tawa...kalo lagi di jalan buat sosialisasi, rasanya kangeen banget sama ketawanya... well... mudah-mudahan nanti ada hikmahnya juga yaa...

Bikin tekwan ini juga rencananya udah dari kapan-kapan. Baru terealisasi hari ini. Padahal beli daging ikannya 2 hari yang lalu lho...untung waktu itu belinya bener-bener fresh, dan langsung masukkin ke freezer, alhamdulillah, sampai diolah tadi rasanya masih sip aja. Aku beli ikan ini di pasar Hongkong (Jelutung) Jambi. Iseng aja pas kebetulan ada abangku, Riri. Naah...abang yang satu ini suka makan, kalo pagi, dia pasti gelisah kelaparan, jadi mau aja diajak keluar cari makanan ke pasar...hehehehe... Aku milih beli daging ikan giling di pasar ini karena dapat info dari temanku, Christine. Ternyata memang bener, waktu aku datang, penjual yang dia maksud baru aja selesai ngegiling ikan tenggiri. Suka deh, penjualnya bersih dan daging ikannya langsung siap diolah, gak perlu pake acara bersihin tulang ikan segala...

Trus terpaksa ditunda bikinnya soalnya baru nyadar gak punya bahan lainnya (cuma ikan doank...hahaha). Baru deh nitip sama si Ros yang kerja di rumah sambil dia belanja keesokkan harinya. Tadi juga sempat-sempatnya nitip daun seledri juga...*plinplan*...hehehe... Trus kenapa niaaaat amat bikin tekwan...? soalnya aku suka banget!!! Mungkin karena dari Sumatra, aku lebih suka tekwan daripada bakso. Ini kebalikan si Mas yang lebih suka bakso. Kalo acara kondangan di Jambi, biasanya menu tekwan selalu ada. Selalu jadi pilihanku kalo lagi malas makan atau udah kekenyangan dari kondangan sebelumnya. Tekwan ini versatile *duile* sekali, selain biayanya murah bagi yang punya hajatan, dan para tamu yang suka juga banyak. Kalo faktor cuaca, tekwan juga pas dimakan saat cuaca panas maupun cuaca dingin...asik-asik aja.  Aku dulu jaman SMP, suka beli tekwan abang-abang gerobak, walaupun pentolannya terasa banget sagu doank dan full MSG *haha*, tapi kuah kaldu dan sambalnya yang pedas, beneran bikin ketagihan. Suegeeeerr....


Kalo lebaran di rumah, menu tekwan juga selalu jadi andalan. Laris dan awet...dan biasanya juga jadi pilihan tamu yang udah bosen sama menu santan. Dirumahku ada pembuat tekwan langganan yang selalu bikin buat lebaran, kayaknya udah lebih dari 10 tahun terakhir, di rumah lebaran selalu ada tekwan. Kalo sate atau siomay, kadang ada, kadang gak. Tapi kalo tekwan, mesti ada! Duluuuuuuu banget, aku pernah bikin sendiri, pake resep Yasaboga juga. Hasilnya memuaskan, tekwannya kenyal, gak terlalu lembut dan gak keras. Rasa ikannya juga terasa sekali. Jadi gak heran kalo kali ini aku bikin tekwan juga pake resep yang sama...eeitsss...setelah aku pikir-pikir, dulu aku bikin tekwan lebih dari 15 tahun yang lalu. Jangan-jangan setelah ini, aku bikin tekwan lagi setelah Ava tamat SMA....Whoa ha ha ha...jangan sampeee....

Naaah....
Ternyata bikin tekwan itu gampang lho. Gak pake lama, karena daging ikannya udah digiling. Sepertinya faktor penentu tekwan enak apa gaknya, tergantung sama kekenyalan pentolnya dan kuah kaldunya. Untuk membuat kaldu, bagian kepala udang aku hancurkan sekalian sebelum di sangrai dengan kulitnya. Setelah semua selesai (kaldu sudah dicampur dengan bumbu tumis), baru aku saring. Setelah itu  baru aku masukkan daging udang cincang dan bahan lainnya. Bumbunya aku tumis dengan sedikit margarine, soalnya aku suka rasa margarine yang gurih. Hasilnya kaldunya cukup lezat dan terasa udangnya, gak perlu pake msg sama sekali lho...tapi kalo ingin kaldu yang putih, bumbunya di tumis dengan sedikit minyak aja...tergantug selera.

Untuk tekwannya, aku cuma bulatin seadanya pake sendok. Inilah yang bikin membuat tekwan jauh lebih mudah dari bakso, gak perlu ribet ngebuletin...dicubit dikit-dikit aja juga bisa. O ya, makan tekwan gak bakalan seru tanpa sambel cabe ijonya. Sebagian orang ada yang suka makan tekwan polos, sebagian suka diberi kecap. Tapi hampir semua suka diberi sambel ijo yang nendang. Mungkin karena kuah tekwan terasa "light", pedasnya sambel beneran memperkaya rasa. Aku gak bisa bikin sambelnya gimana, tadi sambel buat tekwannya aku minta si Ros yang bikinin, jadi aku gak tau resepnya apaan...duh, tuh sambel, beneraaan bikin ketagihaaan....

Eiits, bagi yang mau nyoba, kalo bahan-bahan seperti jamur kuping, bunga sedap malam atau bengkuang gak tersedia atau sulit dicari (lagi di luar negeri misalnya), jangan khawatir, tetap aja bikin dengan bahan yang ada. Rasanya tetap enak koq. Dulu aku bikin juga jaman kuliah semua serba terbatas, rasanya tetap enak!

Ini resepnya ya...

 


TEKWAN
Yasaboga 

Bahan :
250gr udang, kupas, cincang, sisihkan kulitnya
300gr daging ikan tanpa kulit dan tulang, cincang halus (aku beli udah digiling)
1 butir telur
1 sdt garam
50gr tepung sagu/kanji
1/4 sdt bumbu penyedap (aku gak pake)
125ml air
25gr jamur kuping, rendam air panas hingga mengembang, iris
25gr bunga sedap malam, rendam air panas, buat simpul
300gr bengkuang, potong bentuk korek api
2 btg seledri dan 2 btg daun bawang, iris kasar

Haluskan :
5 siung bawang putih
2 sdt merica bulat
1-2 sdt garam

  • Sangrai kulit udang sampai berubah warna. Tuangi 1500 ml air, didihkan 15 menit. Saring. 
  • Campur daging ikan, garam dan air. Masukkan tepung kanji, putih telur dan bumbu penyedap. Aduk dan uleni sampai rata.
  • Didihkan air dalam wadah, sendoki adonan ikan sebesar kelereng, atau ambil secubit demi secubit. Masukkan dalam air mendidih hingga matang dan terapung, tiriskan.
  • Tumis bumbu halus sampai layu (aku menumis dengan sedikit margarine), masukkan udang cincang, jamur kuping, bengkuang, masak hingga layu. Masukkan ke kaldu, masak hingga matang. Sebelum diangkat dari api, masukkan bakso ikan, bunga sedap malam, daun bawang dan seledri. Sajikan panas-panas dengan sambal botol atau kecap rawit (kalo aku dengan kecap dan sambal rawit).

 Kemarin, Ava baru menikmati renang. Setelah beberapa hari sebelumnya saat masuk ke kolam mungilnya, Ava langsung menangis histeris...sekarang dia malah suka sekale...tangan sama kakinya digerak-gerakkin sambil muter-muter. Tadi pagi malah sampe bawa main bebek karet segala.....yipeee..!!

Thursday, December 26, 2013

Curry Puff a. k. a. Pastel Singapura



Duluuuu....ehem... pertama kenal si Mas, waktu ditanya kue kesukaannya apa, jawabannya kue pastel. Mengecewakan sekali, karena saat itu aku sedang hot-hotnya lagi suka bikin aneka cake. Ternyata, si Mas malah gak suka cake, kalo kue tradisional yang manis, doi suka, tapi kalo cake, agak lama sukanya...milih-milih banget. So, aku gak pernah bikinin si Mas kue yang konon favoritnya itu. Paling kalo lagi ngeliat ada yang jualan kue, aku beli beberapa biji, buat dia doank. Aku sendiri jarang beli kue pastel, paling kalo dapat didalam kotak kue jatah snack pas lagi ada acara...apalagi kalo acaranya sampai makan siang, rasanya bersyukur sekali...hehehehe... 

Itu kalo kue pastel biasa lho ya...beda cerita sama pastel yang kulitnya renyah dan berisikan kari...hummm...never say no! sukaaa banget. Makanya waktu liat gerai curry puff dari negeri tetangga buka di Indonesia, lega banget, bisa beli kapan aja daku mau. Memang renyahnya kulit curry puff ini bikin mau lagi dan lagi. Selalu penasaran gimana cara bikinnya. Rasa penasaranku terobati waktu di ajarin sama Mom Elly yang baik hati cara membuat Tarcis yang kulitnya juga berlapis lapis. Bisa di katakan, tarcis itu curry puff yang asli Indonesia. Sama enaknya, kulitnya juga renyah berlapis-lapis, tapi isinya Indonesia banget. Sementara kalo curry puff negeri jiran, isinya ya kari.

Naaaah...beberapa hari lalu, iseng buka website NCC, ketemu sama resep Curry Puff a.k.a Paste Singapura, lengkap sama foto step by stepnya. Yipeeeee! langsung deh semangat mau nyobain..tapi yaaah, sesemangat-semangatnya, tetap aja tertunda. Karena sibuk kesana-sini, pas dirumah rasanya pengen istirahat atau main main sama Ava aja. Tapi hari ini, aku paksakan juga buat bikin. Yang rencananya mau bikin pagi, baru dilaksanakan lewat tengah hari. Padahal dari pagi aku udah nitip sama yu' Yati kalo ke pasar beliin bumbu kari. Siangnya pun masih ada aja yang kelupaan bawang bombay, terpaksa deh nyuruh si Muji beliin sekalian nambah kentang. Ternyata kentang stok makanan Ava juga udah gak ada...duuuh..baru nyadar, saatnya belanja beneran neeeh...hiks!



Seperti yang aku duga saat baca resepnya, pembuatannya gak sulit-sulit amat. Cuma memang persiapannya yang lumayan lama, kan mesti bikin fillingnya dulu. Bikin kentang karinya juga gak sulit, tumis-tumis dikit, lalu semua tinggal cemplung aja.  Untuk bumbu karinya memang sengaja aku perbanyak supaya lebih nendang. Karena bumbu kari beda-beda komposisinya, ada baiknya di cicipi sampai dapat rasa kari yang di inginkan. Kalo aku sendiri lebih suka rasa kari yang kuat. Karena di rumah lagi ada stok black pepper yang tinggal di grinder aja, aku tambahkan juga kedalam kentang kari untuk memperkaya rasa.

Adonanya juga simple bahannya. Cuma waktu bikin adonan B, lumayan juga nguleninnya. Baru nyadar ada mikser kitchenaid yang dari tadi cuma nampang aja di meja dapur...duileee...telmi bener deh. Langsung aja adonan dipindah ke si merah tersayang, jreeeng...jreeeng...adonan langsung kalis tercampur rata, gak pake acara ngulenin "nyuci style"...cepet pulak!..langkah berikutnya, ya mulai melipat dan menggilas. Suka deh lihat foto step-by-step pembuatannya, jadi mudah di mengerti. Sebenarnya cara pembuatannya gak beda jauh sama tarcis ala Mom Elly. Cuma beda di bentuk dan ukuran aja.  Setelah di potong, digilas, lalu diberi isi. Jadinya lumayan banyak, aku jadi bisa nyoba macam-macam gaya membuat pinggiran kue pastel..hehehe...gak tau kenapa, koq mendadak bisa bikin rimpelan ala- si Mama-nya Mom Elly...padahal, dulu gak bisa lho...hihihihi...

Ternyata yang sulit itu ya saat ngebentuk jadi pastel. Lapisannya suka lepas dan bikin ada lobang menganga. Nyebelin banget, walaupun saat di goreng isinya gak tumpah atau bikin pecah, tetap aja gak menarik keliatannya. O ya, dari semua metode menggilas adonan, aku baru mengerti, kuncinya saat digilas, jangan ditekan dan didorong, tapi cukup di giling pelan-pelan supaya gak sobek. Hum...mudah-mudahan bisa di mengerti ya, abisnya bingung juga gimana menjelaskannya. Eh, aku juga masih bingung cara menggoorengnya gimana supaya gak bruntusan. Aku udah coba pake minyak panas sedang sampe panas banget, tetap beruntusan. Dimasukkan ke minyak dingin lalu panas, tetap aja bruntusan...sooo, kalo ada yang tau gimana caranya supaya mulus, let me know ya!


Lalu, bagaimana dengan rasanya??? Enak! kulitnya renyah dan isinya beneran tasty. Terasa banget lapisan-lapisannya. Jadi semangat pengen bikin lagi nyoba eksperimen dengan margarine lainnya untuk perbandingan rasa dan tekstur. Setelah aku cicipi sendiri, ternyata memang lebih enak yang isinya full padat. Sayangnya tadi filling yang aku bikin gak cukup. Total aku dapat 42 kulit pastel (Kalo tadi bikinnya rapi, aku yakin bisa dapat sampe 50 biji). Dari 42 itu, sisa 5 yang gak kepake karena isinya abis. Next time kalo aku nyoba bikin lagi, fillingnya akan aku buat lebih banyak lagi supaya bisa bikin pastel yang isinya gembul...hahahaha...

Tadi pastelnya udah dicoba si Mas, dan katanya enak enak enak....gak tau deh, dia emang suka beneran atau karena mau nyenangin doang...hahaha... yang penting si Mas suka deh, karena udah nikah 3 tahunan, sampe punya anak satu, blom juga dibikinin kue pastel...hahahaha... well, pokoknya hari ini cukup menyenangkan, paling gak, aku mulai semangat masuk dapur lagi. Masih ada lagi resep kue pastel yang pengen aku coba. Resepnya aku dapat dari mba' Rubah, sepupunya si Mas dari Madura. Aku sempat diajarin bikin waktu abis resepsi pernikahan kami di Malang (Wuiih...lama beneeeer..), tapi gak sempat-sempat bikin, selalu akhirnya nyoba yang lain. Padahal pastelnya enak lho, walaupun pastel biasa. Kulitnya renyah karena pake korsvet. Udah masuk daftar resep yang pengen aku coba sejak lama tu...

Btw, hari ini ada si Icha, anak sepupuku yang main ke rumah. Icha baru datang dari Jatinangor kemaren. Si Icha ini dari kecil nongkrongnya emang di rumah, karena SDnya dekat rumah, kalo pulang sekolah, dia nunggu dijemput ya di rumah. Sampe besar juga basecampnya dirumah. November lalu, Icha masuk IPDN, sekarang pulang ke Jambi pas libur...hihihihi...lucu deh, dia kemana-mana mesti pake seragam. Tuuuh...lihat, kak Icha pake baju dinas, sementara Ava cuek bebek, muka cemong, gak pake baju, nungguin air buat mandi sore...hahahaha....

Resepnya ada di bawah yaaa...saranku, jangan lupa kunjungi website NCC buat lihat foto step by stepnya yaaa....






CURRY PUFF a. k. a PASTEL SINGAPURA
Fatmah Bahalwan


Bahan isi :

KENTANG BUMBU KARI

500 gr kentang
1 bh bawang bombay cincang
3 bh bawang putih cincang
3 sdm margarine
2 sdm bumbu kari bubuk siap pakai (aku 3 sdm, sesuai selera ya...)
1 sdt kaldu ayam bubuk (tadi gak pake, gak punya..ganti sama garam)
2 sdm saus tomat
1 sdm saus sambal

Cara membuatnya :
  • Kukus kentang hingga matang, kupas, potong dadu kecil
  • Panaskan margarine dalam wajan, tumis bawang putih dan bawang bombay hingga layu, masukkan kentang, aduk rata.
  • Taburi bumbu kari bubuk dan kaldu ayam bubuk, aduk rata, tuangi saus tomat dan saus sambal, aduk hingga rata dan matang. Angkat, dinginkan. Siap menjadi isian.

Bahan kulit :

Bahan A
250 gr  tepung terigu
150 gr margarine

Bahan B
750 gr tepung terigu
80 gr minyak goreng
300 ml air dingin
50 gr gula
1 sdm garam

Cara membuatnya :
  • Campur semua bahan A hingga menjadi adonan yang dapat dipulung. Bagi menjadi 2 bagian, bulatkan, sisihkan.
  • Bahan B : Dalam wadah, masukkan tepung, minyak goreng, gula, garam,, uleni sambil dituangi air sedikit demi sedikit hingga menjadi adonan yang kalis. Bagi menjadi 4 bagian, bulatkan.
  • Pipihkan 1 bagian B, isi dengan 1 bagian adonan A ditengahnya. Bulatkan hingga adonan A rapat terbalut adonan B. Rapikan bulatannya. Lakukan pada semua adonan. Diamkan 15 menit.
  • Ambil satu bagian adonan, gilas tipis, lalu lakukan lipatan single, yaitu adonan dilipat tiga kearah tengah.
  • Gilas lagi memanjang hingga sangat tipis. Kemudian gulung, dan padatkan. Lakukan hal yang sama pada tiga adonan lagi.
  • Potong-potong adonan horizontal setebal kurang lebih 1-1.5 cm hingga dapat potongan bulat dan terlihat tekstur pusaran.
  • Gilas tipis tiap potongan, beri isi Kentang Bumbu Kari, dan bentuk menjadi pastel.
  • Goreng dalam minyak yang sudah panas, hingga kuning kecoklatan. Angkat, sajikan.

Tuesday, December 24, 2013

Kenalin, namanya Ava...

Hello!!!!!!!!!!!! *hug hug n' kiss kiss*
Apa kabar semuanyaaa? baik-baik saja kaaan..??
Hadeuwwwww...rasanya udah lama buanget gak nge-blog. Hampir satu tahun gak di update! Kangen deh pengen bikin-bikin dan cerita lagi di sini. Padahal, udah sering banget lho kepikiran pengen kedapur...tapi yah cuma kepikiran doang, gak di eksekusi juga...hehehehe... 

Eniwey...
Ini niih, yang sekarang bikin aku sibuk. Yup kenalin ya, putri mungilku, Ava. Nama lengkapnya, Ava Sofia Imannora... namanya, asli dari pemikiran Mama-nya (ya aku lah yaa..hehehe). Ayahnya alias si Mas, cuma meng-oke-kan aja...(yah, mungkin doi juga tau, kalo gak oke pun aku tetap bakalan ngotot...*heehee*). Namanya aku ambil dari mana-mana... yang artinya begini nih...


Ava : Dalam bahasa Persia, artinya irama yang merdu atau suara yang indah..
Sofia : Juga dalam bahasa Persia artinya bijaksana..
Imannora : Perpaduan kata Iman + Nora. Kata "Nora" juga dari bahasa Persia yang artinya Cahaya (Nuur). Jadi, Imannora maksudnya Cahaya Iman (Nur Iman).

Harapan Mamanya, anaknya ini akan menjadi wanita yang bersuara indah, bertutur kata lemah lembut (kebalikan Mamanya yang suaranya cempreng...hihihi),  bijaksana dalam segala tindakannya dan tentu saja menjadi muslimah yang bercahaya iman. (BTW, Ava Sofia juga nama sebauh masjid yang indah di Turkey, semoga putriku nantinya juga bisa membawa perubahan untuk kebaikkan...Amiiin)

Alhamdulillah, putriku ini anaknya gak rewel. Hepi-hepi aja bawaanya. Mungkin karena emang dari dalam perut sudah sering aku ajak bicara ya (thank you buat semua info Ibu hamil di internet...hehehe). Aku sering ajak komunikasi tentang kegiatanku dan Ayahnya. Kalo aku baru tau hamil setelah lewat dari 3 bulan, lahirnyapun terhitung kejutan juga. Lebih cepat 3 minggu dari perkiraan, tapi lahirnya pas hari pertama masuk minggu ke 37. Sedikit cerita tentang hari kelahirannya yaa...

Hari Selasa, si Mas baru balik dari Jakarta setelah menyerahkan berkas-berkasku. Saat beliau pulang, aku cerita kalo aku ngerasa udah gak nyaman dengan kehamilanku (ternyata hamil bisa bikin jenuh juga...am I the only one?? *wonders*...). Bukan apa-apa, karena memang minggu-minggu terakhir ini, tensi darah ku meningkat. Sama dokter di suruh istirahat melulu, sementara aku merasa gak ada perubahan. Kaki dan tangan membengkak sejadi-jadinya. Segala posisi duduk dan tidur yang disarankan, tetap tidak ada perubahan. Mendengar keluhanku, suamiku membawa aku ke dokter hari Kamisnya, lebih cepat dari jadwal periksa yang biasanya hari Sabtu. Habis maghrib, kami ke dokter. Sampai di sana wajah dr. Sindhung yang biasanya datar aja, mulai terlihat beda. Biasanya beliau nyantai banget dengar semua keluahanku. Malam itu juga aku disuruh test urine di lab yg gak jauh dari tempat beliau praktek dan hasilnya ditunggu. Aku dan si Mas, sambil ketawa tawa, jalan kaki ke lab dan balik lagi ke dokter Sindhung.


Setelah melihat hasil tes ku, dokter Sindhung mulai terlihat tenang seperti biasa lagi  (atau pura-pura tenang yaa??? hahaha...), katanya, kadar protein di urine ku tinggi. "Ibu malam ini istirahat di rumah sakit aja ya bu, kalo di rumah sakit ada oksigen, supaya Ibu tidurnya nyenyak.." begitu katanya. Aku yang malas pindah ke rumah sakit karena udah malam, minta masuknya besok pagi-nya saja...lagi dengan tenang tapi maksa dokternya bilang "Malam ini aja bu, nanti tengah malam saya mampir ke rumah sakit meriksa keadaan Ibu, kalau malam ini Ibu tidurnya nyenyak, ya besok Ibu bisa pulang ke rumah..."...aku pun langsung mati kutu, Apalagi si Mas juga udah melotot nyuruh aku ikut omongan dokter.

Dalam perjalanan pulang, aku nagih janji si Mas yang mau ngajak makan martabak India sebelum ke dokter tadi. Tapi si Mas maksa pulang dulu ke rumah, siap-siap buat ke rumah sakit dan memberi tahu Papaku. Sampe rumah, bawa baju seadanya (karena kata dokter aku cuma istirahat doang) kami berangkat ke rumah sakit. "Kami" maksudnya rombongan yang mengantar aku...Ada Papa, aku dan si Mas satu mobil, dan mobil satu lagi, ada sahabat kami Sandy yang bawa Wiwin dan Ina yang kerja di rumah saat itu untuk menemaniku nanti di rumah sakit. Sampai di RS, aku ke UGD, menyerahkan surat dokter Sindhung. Aku rada heran juga karena petugas yang menerima surat seperti panik dan bingung melihat pasiennya ternyata aku yang berjalan nyantai aja. Ditawari kursi roda sampe tempat tidur dorong aku gak mau, karena memang masih bisa jalan koq.

Aku di antar ke bagian  bersalin, disuruh pipis dengan alasan nanti kalau sudah diatas tempat tidur, aku gak boleh turun-turun lagi dan harus pakai kateter. Aku jelaskan kalau aku cuma disuruh istirahat doank, dan besok boleh pulang. Jadi gak perlu pake kateter (aku paling benci pake kateter, rasanya kayak mau pipis aja..*anyang-anyangan*). Perawatnya cuma meng-iyakan saja, tapi tetap sama rencana semula. Akupun disuruh istirahat di ruang bersalin yang kecil dan hanya ada 1 tempat tidur doank. Suamiku dan Sandy sibuk minta kamar rawat inap biasa, yang ukurannya normal, karena aku harus istirahat, tapi perawatnya bersikeras kalau perintah dokter aku harus diruangan itu. Gak lama, bang Iqbal dan mba' Dwi istrinya datang juga. Semakin rame deh yang menungguiku di rumah sakit...hahahaha... Gak lama dokter Sindhung beneran datang ke RS memeriksa keadaanku. Aku cuma dipasang infus, dan disuruh santai dan tidur saja. Karena sudah malam, aku bilang ke Papa dan lainnya supaya pulang aja istirahat, karena aku keliatannya gak ada masalah yang berarti, sesuai kata dokter tadi, cuma perlu tidur doang. Akhirnya tinggalah aku sama si Mas yang siap-siap tidur di lantai. Rada kasian juga sama si Mas, sudahlah tidur di lantai, beliau juga kena omelanku karena gak jadi beliin aku martabak, soalnya pas masuk RS, aku sudah dilarang makan, padahal perutku udah lapar beraaaat.....hahahahaha....maaf ya say!

Semalaman ntah kenapa aku gak bisa tidur, ntah karena kateter yang bikin super gak nyaman atau memang tempat tidurnya yang gak nyaman untuk aku yang perutnya udah besaaar banget. Si Mas aku bangunkan dan aku minta pulang, istirahat di rumah aja, karena di RS, aku malah gak bisa tidur. Mungkin karena udah kena omelanku dan gak mau aku ngomel lagi, beliau keluar, sebentaaar banget, pas masuk lagi, si Mas cerita kalo dia sudah ngomong dengan suster..bla..bla..bla...kesimpulannya, aku memang harus di RS sampai besok pagi. Kentara banget boongnya, cukup dengan pelototanku, akhirnya si Mas ngaku sambil senyam senyum bilang kalo tadi dia cuma muter aja diluar, dia tengsin ngomong ke perawat minta keluar RS malam-malam, dan minta aku bersabar aja nunggu pagi...huu..dasar..  sambil gerutu aku bilang ya udah, besok aku ngomong sendiri aja minta pulang.

Gak lama, aku lihat jam, sudah menunjukkan jam 3 lewat...si Mas baru mulai tertidur... Jam 3.50 pagi, aku merasa perutku sakit...tapi gak lama. Melihat si Mas kelelahan, aku gak mau membangunkan, walaupun sakit itu muncul sesekali. Jam 4 lewat, aku mulai gak tahan, si Mas aku bangunkan, karena sakitnya mulai terasa, dan makin lama, makin sering. Si Mas, langsung memanggil perawat. Jam 5 kurang dikit, aku mulai gak tahan, sakitnya udah bikin nangis. Suster udah berkali-kali masuk ke kamar untuk menenangkan. Si Mas yang mulai panik, langsung nelfon iparku, kak Ari (istrinya bang Mubaraq) yang pernah jadi perawat, untuk segera ke rumah sakit.menemani aku. Jam 6 lewat, kak Ari dan bang Baraqpun datang ke rumah sakit. Saat itu kontraksi ku sudah semakin sering. Papa pun datang juga pagi itu dan mulai menasehati ku untuk sabar dan selalu ngucap nama Allah SWT.

Jam 8, dokter Sindhung datang, dan bilang kalau aku akan di operasi hari itu juga. Karena sudah gak tahan sakitnya, aku minta di operasi secepatnya, tapi dokter minta aku tahan dulu, karena akan di beri suntikan penguat paru untuk bayiku dan aku pun di beri obat penurun tensi. Apalagi hari itu hari Jum'at, operasi baru bisa dilakukan jam 1 siang setelah sholat jum'at. Aku rasanya mau menjerit kencang membayangkan masih lamanya harus menunggu sambil menahan sakit. Rasanya waktu berjalan sangat lamban, apalagi jam dinding di ruangan itu langsung ke mataku, sepertinya jarum jam gak bergerak sama sekali. Beberapa kali aku di tensi tapi darahku gak turun banyak. Beberapa kali pula suster datang dan menghiburku untuk tenang supaya tensiku lekas turun. Karena semua usaha mereka untuk menurunkan tensiku sudah maksimal, tidak ada yang bisa di lakukan lagi.


Jam 1 kurang, aku disiapkan untuk masuk keruang operasi. Aku masih nangis terus, bukan karena takut dioperasi, tapi karena memang aku kesakitan. Sebelum masuk ruang operasi, aku lihat banyak keluarga dan teman-temanku yang menunggu di depan ruangan. Semua disuruh melihatku sebelum masuk ke ruangan, senang rasanya mengetahui kalau aku gak sendirian. Setelah pamit dengan Suamiku, akupun masuk ke ruang operasi. Saat di ruangan operasi, ternyata dokter juga masih menunggu tensiku turun, kalau tidak salah, terakhir tensiku aku dengar 147. Dokter Sindhung terlihat berfikir agak lama, kemudian beliau bilang oke. Aku di minta duduk untuk dimasukkan bius ditulang belakangku. Aku ingat, temanku, Christine pernah cerita kalau ini proses yang lumayan bikin sakit, tapi ntah karena sakit di perutku lebih sakit, aku gak terasa sama sekali saat suntikan dimasukkan. Aku justru merasa lega, karena setelah itu, sakitku hilang, dan rasa gak nyaman dari kateter sialan itu pun hilang...cihuuy...

Sayang banget ternyata suamiku tidak diperkenankan masuk selama operasi berlangsung. Aku sendiri gak merasa apapun, petugas yang membantu jalannya operasi, sibuk mengajakku bercerita, padahal aku lumayan ngantuk. Ditengah-tengah, aku merasa susah bernafas, aku coba terus tapi seperti ada yang bikin tersendat, aku bilang "Gak bisa nafas, gimana nih.."  aku dengar petugas yang tadi ngajak aku ngobrol bilang gini "Ayo bu, terus tarik nafasnya, anak Ibu juga sesak..ayo bu, bantu anaknya!"...aku jadi semangat berusaha tarik nafas terus, sampai tiba-tiba nafasku terasa mendadak lega..."anak Ibu sudah keluar bu, perempuan"...lalu terdengar tangis bayi. Rasanya legaaaa banget, gak tau deh mesti bilang apa. Aku bingung juga kenapa bayiku gak langsung di perlihatkan ke aku (kayak di film gitchuuu..hehehe). Tapi aku terlalu ngantuk buat nanya, sama perawatnya pun aku dikasih tau, sekarang boleh tidur kalau mau. Gak lama, terdengar sudara suster yang bilang kalau berat bayiku 4.150gr...lumayan bikin dokter Sindhung kagum.."Waaah, besar bu..", padahal menurut perkiraan sebelumnya, bayiku memang lumayan besar, tapi masih di bawah 4 kg.

Tiba-tiba aku dibangunkan.."bu, ini anaknya"...rasanya seperti mimpi melihat bayi mungil yang dibungkus kain hijau. Kata pertama yang keluar dari mulutku cuma "Avaaa...", setelah aku cium, bayiku pun di bawa lagi oleh perawatnya. Tenyata, kata suamiku, keluar dari ruang operasi, anakku buru-buru dibawa keruangan bayi dan sempat diberi oksigen. Mungkin itu sebabnya, setelah lahir gak langsung di perlihatkan ke aku. Inilah yang sebenarnya di khawatirkan dokter Sindhung, sehingga harus dioperasi hari itu juga. Karena mencegah bayi ku sesak karena preeklamsia. Aku bersyukur sekali dan sangat berterima kasih sama dr. Sindhung yang sudah mengambil tindakan-tindakan yang dianggapnya perlu. Aku memang sudah tau kalau aku akan dioperasi karena diabetesku, tetapi tidak menyangka akan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Alhamdulillah, dr. Sindhung bawaanya tenang, jadi aku pun lebih fokus ke tujuanku untuk melahirkan anakku tanpa memikirkan hal-hal yang akan membuatku panik. Dokterku ini orangnya pendiam lho, kalo periksa, aku aja yang cerewet nanya ini itu...hehehehe...
Lega, senang, bahagia, semua rasa campur aduk. Gak henti-hentinya aku bersyukur pada Allah SWT bayi ku keadaanya sehat dan tidak kurang satu apapun. Alhamdulillah. Semua yang aku bayangkan menjadi kenyataan. Bayiku lahir langsung dikelilingi sanak keluarga dan teman-temanku yang menyayanginya. Selama di rumah sakitpun, tamu yang berkunjung gak henti-henti, sampai bikin perawatnya bingung melihat keluarga besar kami yang memenuhi kamar rawat inapku. Rasa sedih mengingat Ibuku dan abang Sadat yang sudah tiada dan tidak dapat melihat anakku tertutupi dengan canda tawa sanak saudaraku.

Itulah cerita yang lumayan panjang jadinya...hehehe...tentang kelahiran putriku yang aku sayangi. Bahagia sekali rasanya sekarang aku bisa memanggil diriku sendiri "Mama"... dan walaupun memang benar cerita orang-orang selama ini kalo punya bayi itu melelahkan dan sangat menyita waktu, tapi di malam hari, melihat Ava tertidur, rasanya tidak ada kebahagiaan lain yang bisa menandingi kehadirannya di tengah-tengah kami. 


Naaah...
Inilah sebabnya aku cuti dulu baking-bakingnya. Tanggal 17 kemarin, Ava genap berusia 7 bulan. Sudah bisa tengkurap sambil berusaha merangkak. Gak suka di suruh duduk, tapi maunya berdiri sambil dipegangin. Sudah suka makan, makananya apa aja yang di blender Mamanya...hehehe...paling suka kentang, apapun yang di campur kentang, Ava akan memakannya dengan senang hati. Yup, saat ini Ava memang makan makanan yang dibuat sendiri. Campuran aneka sayuran, baru setelah usia 7 bulan ini, makanannya ditambah ikan salmon. Alhamdulillah, Ava, gak alergi.

Hummm...jadi kepikiran mau nambah kategori baru di blog ini, supaya lebih bervariasi. Rencananya mau nambah bagian "Grocery"...isinya aneka produk yang menurutku layak untuk di coba. Sejak, punya bayi, aku lebih teliti sama barang-barang yang aku beli, kayaknya menarik juga kalo berbagi di sini. Cocok gak ya..?..Oh, well...we'll see...hehehehe...

O ya, aku juga upload video foto-foto Ava, 3 bulan pertama dalam kehidupannya :


Mudah-mudahan dalam beberapa ini aku bisa ke dapur lagi, resep-resep yang ingin aku coba udah menumpuk minta segera diwujudkan jadi kenyataan...so stay tune!




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...