Search This Blog

Friday, December 31, 2010

Steamed Golden Syrup Sponge Pudding with Vanilla Custard

Ini postingan terakhirku di penghujung tahun 2010. Ngeblog sambil ngeliatin si Mas yang lagi jungkir balik sakit gigi di malam tahun baru...hehehehe... Yep, bulan desember kali ini blog-ku lebih banyak nganggurnya, lagi malas banget bikin-bikin. Sibuk bolak-balik Jakarta-Jambi buat nemanin Papa dan si Mas.

Ngomong soal English food , dulu aku punya teman baik orang Perancis, namanya Fabien. Dia selalu nge-joke kalo makanan orang Inggris itu enak dan dia langsung tertawa ngakak sama pernyataannya sendiri (bingung juga lucunya di mana...hehehe) so, waktu berangkat kuliah ke Inggris, aku juga gak expect banyak, kalo gak enakpun, ya udah, no problem. Toh aku orangnya fleksible, asalkan halal, oke-oke aja (yep, kelihatan jelas dari bodyku yang selalu "stabil" di manapun aku berada..hehehe). Tapi ternyata dugaanku salah, banyak sekali makanan Inggris yang aku suka. Cornish pasties, puddings, scones, Yorkshire pudding plus daging panggang and gravynya bahkan fish n' chip yang di siram cuka, aku juga suka. Di Inggris juga aku mulai suka sandwich daripada burger. Itu jauh lebih menyehatkan, dan murah...hehehe... Menurutku, makanan orang Inggris itu sehat sekali, terbukti dari sedikitnya berat badanku naik selama kuliah di sana...yeah, di banding di Amrik dulu yang langsung melesat kayak roket...hahahaha... nah, salah satu kebiasaan orang Inggris yang sampe sekarang masih melekat di hati ku diantaranya, menambahkan custard or cream ke desserts. Uuughh... mendadak jadi pengen scones dengan clotted cream dan homemade jams...aay yaay yaaay!!

Anyway, back to pudding.....
Pudding yang di maksud kali ini bukan pudding berbasis agar-agar seperti biasanya. Tapi lebih mirip cake. Di Inggris variasi pudding juga banyak, yang paling top mungkin plum pudding atau bread and butter pudding. Biasanya, aku suka beli pudding dalam mangkok mungil kalo lagi ke supermarket yang gak jauh dari asrama. Cukup sekali seminggu dan ukuran yang paling kecil. Selain harganya gak murah, namanya juga tinggal sendiri, bisa keblenger juga kalo mesti ngabisin pudding semangkok gede...hehehe... *gak penting*. Kali ini, aku bikin pudding sendiri, pilihanku golden syrup sponge pudding, ini sesuai sama acara tv yang sukses bikin aku pengen...hehehehe. Resepnya aku ambil dari sini. Pudding ini aku bikin kemarin di Jakarta. Iseng banget ya, padahal kalo bikin hari ini di Jambi, lebih banyak yang ikutan makan.

Namun apa mau dikata, kalo lagi kepengen baking, justru gak bisa di tunda, walaupun cuma nunggu satu hari aja. Alhasil, aku cuma sanggup ngabisin setengah doang, sisanya aku pesankan ke mba' Nur supaya di sajikan buat teman-temannya si Mas yang suka mampir ke rumah, sebelum pulang ke Jambi tadi pagi. Hummm...masih kebayang enaknya. Bikinnya gampang, dan hasilnya bener-bener gak malu-maluinlah. Sponge cake hangat yang di siram sama custard yang tidak begitu manis. Perfect!

Gak perlu persiapan khusus waktu membuatnya. Semua bahan cukup di mikser hingga rata dan ringan, masukkan ke dalam cetakan pudding yang sudah di siram dengan syrup. Karena aku gak punya mangkok kaca yang besar untuk pudding, aku bikinnya pake mangkok stainless yang aku punya aja. Mungkin yang perlu di perhatikan saat mengcover loyang dengan aluminium foil. Golden syrup aku ganti dengan corn syrup dan brown sugarpun, aku ganti dengan gula biasa dan jumlahnya juga aku kurangi. Hasilnya, tetap enak koq. Bisa di katakan ini resep anti gagal. Pematangannya juga boleh pilih, mau di kukus langsung atau steam-bake seperti yang aku lakukan. Pudding yang lezat yaitu pudding yang moist dan tasty, pudding ini saat di keluarkan telihat kurang moist, nah, di sini uniknya, golden syruplah yang akan membuat pudding ini lembab dengan sendirinya.

Setelah di keluarkan, siram dengan syrupnya, gak lama, kelihatan koq cakenya akan menyerap syrup dengan cepat. Syrup juga yang akan membuat cake ini manis, jadi bisa di kira-kira ingin seberapa manis puddingnya. Untuk custardnya, beda dengan vla, custard untuk saus ini lebih encer daripada vla, sehingga dapat di siram. Walaupun begitu, gak terlalu cair juga, cukup seperti cairan yang kental. Untuk resep custardnya aku ambil disini. So, gampangkan?? ini resepnya yang di terjemahkan ala kadarnya...hihihi..



STEAMED GOLDEN SYRUP SPONGE PUDDING
by Ed Baines
  • 100gr mentega tawar, plus extra untuk mengoles loyang dan aluminium foil

  • 2 sdm golden syrup, plus extra untuk penyajian (aku pake corn syrup)

  • 115gr tepung serbaguna, ayak

  • 1½ sdt baking powder

  • 2 btr telur
  • 115 gr brown sugar (aku ganti 80 gr gula pasir)


Caranya :
  • Olesi mangkok/loyang pudding (kapasitas 900ml) dengan mentega tawar hingga rata. Dinginkan di kulkas, selama lk. 4-5 menit.
  • Saat di dinginkan, siram bagian dasar loyang dengan golden syrup.
  • Dalam mangkuk besar, whisk (aku pake mikser aja kecepatan rendah) tepung, baking powder, telur, brown sugar dan mentega hingga tercampur rata. Tuang adonan kedalam loyang pudding.
  • Lipat aluminium foil hingga setengah, olesi dengan mentega tawar. Buat beberapa lipatan agar ada tempat untuk pudding mengembang. Tutup loyang puding dengan aluminium foil (bagian yang di olesi mentega menghadap ke pudding), ikat dengan tali.
  • Letakkan pudding yang telah di bungkus ke dalam kukusan (atau bisa juga dengan cara au bain marie --ini yang aku lakukan-- dengan memasukkan loyang pudding ke wadah yang lebih besar yang diisi dengan air hangat, panggang di oven lk 1,5 jam).
  • Untuk penyajian, keluarkan puding di tengah-tengah piring saji. Potong, dan siram dengan sisa syrup sesuai keinginan. Siram dengan vanilla custard bila suka.

REAL PROPER CUSTARD
By Mary Berry

Bahan :
570 ml susu
55 ml single cream (aku pake whipped cream cair)
1 batang vanilla pod, atau 1/2 sdt vanilla extract
4 btr kuning tidur
30 gr gula kastor
2 sdt maizena

Caranya :
  • Didihkan susu, cream dan vanilla pod dengan api kecil. (kalo pake vanilla extract, nanti saja).
  • Angkat batang vanilla, singkirkan.
  • Dalam wadah, whisk kuning telur, gula dan maizena hingga tercampur rata.
  • Tuang susu dan cream hangat ke dalam campuran telur, whisk terus menerus dengan whisk.
  • Kembalikan lagi ke dalam panci (tambahkan vanilla extract), dengan api kecil, aduk berlahan dengan sendok kayu hingga mengental.
  • Tuang custard ke dalam wadah, sajikan untuk sekali penyajian.
  • Agar tetap hangat, letakkan wadah custard diatas wadah lebih besar yang berisi air hangat. Tutup dengan plastik cling supaya tidak membuat lapisan.


Tuesday, December 14, 2010

Proll Tape Blueberry Streusel


Ceritanya, sebelum berangkat ke Jakarta minggu lalu, aku udah niat mau ngabisin stok coklat dan topping blueberrynya si Dea. Tapi blom kesampaian, sampe aku sendiri udah balik lagi ke Jambi hari Minggu lalu. Kemarin, aku sempat pengen bikin brownies aja, tapi, kalo cuma di kasih topping blueberry doang, kesannya biasa banget, cuma ganti topping thok. Lagi pula kayaknya di rumah udah pada bosen makan brownies, abisnya, kalo bikin, yang makan cuma bang Iqbal doank, selalu habis sih sama dia, tapi kan lebih asik kalo bikin something new.

Naah, semalam, hari pertama MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) tingkat kotamadya Jambi. Ortunya Dea, mesti ke arena MTQ. Selain kantor kecamatan Ayahnya Dea ikutan berpartisipasi, Kak Ika (Bundanya si Dea) juga kebagian jatah piket. Si Dea ngotot supaya aku sama si Mas ikutan, kebayang kali dia bakal di cuekin ortunya yang lagi sibuk...hihihihi... Akhirnya, Kak Ika, si Dea dan aku, naik mobil sendiri yang di setirin si Mas nyusul Ayah Dea yang udah berangkat duluan. Lagian kalo ortunya mesti stay terlalu malam, aku sama si Mas bisa bawa Dea pulang. Mesti sekolah euy!!! Hummm...rasanya udah lama banget gak datang ke acara MTQ. Waktu masih kecil n' tinggal di kabupaten dulu, lumayan sering datang. Soalnya Papa dan Ibuku pasti pergi juga. Kali ini, oke lah ikutan datang lagi, selain kangen suasananya, itung-itung ngasih support ke abangku Riri (Ayahnya Dea), apalagi, itu juga kecamatan tempat aku tinggal hehehehe...Go...Go...Goooo...Telanaipura!!!!! *giggles*

Anyway,
Seperti biasa, selain lomba pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, tiap kecamatan ada stan yang pamer produk unggulan mereka. Waktu masuk salah satu stan, si Mas udah kasak kusuk minta di beliin peyek kacang kesukaannya, sementara si Dea minta kripik pisang. Aku sendiri, blingsatan ngeliat tape singkong yang keliatannya matang banget. Thats my favorite! aku suka sama tape singkong yang basah, lembut, matang, rada asem dan nge-gas. Aku kurang suka sama tape singkong yang manis-kering, rasanya ngebosenin. Langsung deh aku ngambil dua bungkus tape. O ya, di salah satu stand, waktu si Mas sibuk keliling sama si Dea, aku sempat-sempatnya beli bros motif Jambi kuno, yang cantiiikkkk banget...lumayan bikin si Mas masem-masem karena dia cuma beli aneka peyek doang...*tragis*...whoa ha ha ha ha

Setelah puas muter-muter arena MTQ, udah waktunya si Dea pulang. Sepanjang jalan dia cemberut aja karena masih mau tinggal di arena (dia suka banget ngeliat rebana..hehehe). Akhirnya si Mas ngajak mampir ke Tanggo Rajo sebentar, yang di sambut Dea dengan suka cita. Tanggo Rajo, letaknya pas di depan rumah dinas Gubernur Jambi dan di tepian sungai Batang Hari. Di sana ciri khasnya, banyak penjual jagung bakar yang uenak dan penjual air tebu komplit dengan mesin tebunya. Waktu aku masih imut-imut *ehem*, kalo ke Tanggo Rajo, aku hepiiiii banget. Soalnya, jarang bisa ke sana, lumayan jauh daari kabupaten tempat tinggal kami dulu. Dari sana, untuk ke kota Jambi sendiri butuh waktu 1 jam. Paling kalo sodara-sodara ortuku yang tinggal di rumah kami ngajak ke sana, baru deh aku ikut. Sampe sekarang, ini masih jadi salah satu my happy place. Aku suka ke tanggo rajo di hari biasa, jadi gak terlalu rame. Kadang sore, kadang malam. Sama asyiknya. Duduk bangku yang di susun di bawah deretan pohon sawit, sambil melihat perahu ketek yang melintasi sungai batang hari, dan kalau melihat ke depan, ngeliat lampu-lampu dari kawasan seberang yang memang berada di seberang kota Jambi. Anyway, setelah puas nge-jagung bakar dan air tebu, baru deh si Dea gak cemberut lagi pulang ke rumah.

Tadi pagi, masih ada sisa tape satu bungkus. Pengen diolah jadi cake aja. Tapi karena hari ini jadwal pengajian di rumah, kasian juga kalo mesti nambah kerjaan si Umi beres-beres peralatan bakingku nanti. Aku putusin bikin something simple aja. Gak perlu pake mikser dan gak perlu pake banyak wadah. Tape yang udah lembut, aku tekan-tekan aja pake sendok, begitu juga bahan lainnya yang aku campur sekalian. Kebayang brownies tape yang gak coklat. Waktu aku ngebayangin ngasih topping blueberry, koq rasanya kurang "greget" ya. Kayak nyiram brownies pake topping..humm... tiba-tiba aku ingat salah satu roti yang pernah aku makan (lupa dari toko roti mana) yang pake topping blueberry dan di taburi streusel. Selain rasanya enak, bentuknya pun jadi lebih keren *ih, maksa banget*...hehehe...

Akhirnya aku buat streusel jadi-jadian, yang aku taburi saat di tengah pemanggangan. Karena streusel nya lumayan banyak, jadi aku lapis-lapis antara streusel dan topping bluebery. Sampai 5 menit terakhir, juga aku taburi lagi dengan streusel dan topping blueberry supaya dapat streusel yang kekuningan. Waktu jadi, aku senyam-senyum sendiri, karena bentuknya not bad lah. Lumayan representative. Setelah agak dingin, aku potong-potong. Gigitan pertama..suka! suka! suka!... tapi, tetap gak pede kalo belum ada orang lain yang nyicip kan? kebetulan sepupuku si Tona yang lagi di Jambi nongol di rumah dengan keponakan mungilnya Gizlan. Baru mau nyuruh nyicip, ternyata dia malah lagi makan kuenya...hehehe.. hasilnya??? dia suka tuh!! katanya, awalnya agak bingung ini kue apaan, tapi lama-lama enak aja, dua potong langsung ludes. Sekarang giliran si Mas yang di paksa nyoba, sama seperti Tona, walaupun dia gak tau ini kue apaan, tiga potong ludes. Sempat gak percaya waktu aku bilang dalamnya tape...hehehehe... gak pa pa deh! yang penting, kuenya sukses!!!

O ya, pas foto-foto kuenya, si Dea minta di foto juga pake topi funky yang di beliin Bundanya di arena MTQ semalam. Dia ogah di suruh pake baju, cuma mau foto sama topi doang, ya udahlah, di foto pake singletnya sekalian...hehehehehe...

Tadi sempat ragu, kue ini termasuk kategori apa. Cake? brownies? atau Proll? karena menurut teman-teman facebook kue tape tipe padat legit begini termasuk jenis proll tape, jadi aku kasih nama proll tape blueberry streusel adza....hihihihihi...namanya gak kreatif banget!



PROLL TAPE BLUEBERRY STREUSEL
by. Camelia


Bahan streusel :

65 gr margarin
65 gr tepung terigu protein sedang
5o gr gula halus
2 sdm susu bubuk

Cara membuat streusel :
Campur semua bahan dalam wadah, aduk berlahan dengan garpu hingga berbutir-butir. Sisihkan.

Bahan proll tape :

150 gr tape singkong
50 gr susu kental manis
2 btr telur, kocok lepas
100 margarin, cairkan
50 gr gula halus
120 gr tepung terigu protein sedang
1 sdt vanilla extract
Topping blueberry/selai secukupnya

Caranya :
1. Lumatkan tape dengan garpu, buang tangkai dan serat kasarnya. Campur dengan susu kental manis.
2. Masukkan kocokan telur kedalam campuran tape, aduk dengan sendok hingga benar-benar rata, tambahkan margarine cair dan vanilla extract, aduk rata.
3. Tambahkan gula halus dan tepung, aduk hingga rata.
4. Masukkan ke dalam loyang brownies (aku pake ukuran 10 x 25 cm), ratakan. Coret-coret bagian atasnya dengan topping blueberry, panggan selama 45 menit.
5. Di tengah-tengah pemanggangan, keluarkan dari oven, taburi streusel, coret dengan blueberry, taburi streusel lagi dan coret dengan blueberry lagi, masukkan lagi ke oven.
6. 5 menit sebelum kue matang, keluarkan dari oven, ulangi lagi langkah no.4. Masukkan lagi ke oven hingga matang.
7. Dinginkan, potong-potong, sajikan.

Enjoy!

Wednesday, November 24, 2010

Apple Pie


Sebenarnya, kemarin aku gak ada rencana mau bikin apple pie. Tapi, waktu aku datang ke Jambi, aku koq nyium aroma kayu manis yang kenceng banget di rumah ortuku. Well, kak Ika langsung cerita kalo Papa ku baru di beri temannya sekantong besar kayu manis dari Kerinci sekalian sama syrup kayu manis nya (kalo ke Jambi, jangan lupa beli syrupnya ya, uenaaaakkk! *promo*). Wuiiih....tanpa ragu aku sudah yakin kalo kayu manis dari Kerinci, is the best!!! T. O. P B. G. T !!! well...ini fakta lho ya, bukan karena aku masih berdarah Kerinci (Datuk ku, Papanya Ibuku asli Kerinci) tapi memang kenyataannya begitu. Buktinya, Cinnabon yang paling di sukai sama aku dan abangku Riri, kayu manis nya berasal dari gunung Kerinci lho... aromanya selalu bikin aku dan abangku berbalik arah ke counter Cinnabon. Sukaaaaa banget!!

Anyway, rasanya sayang banget kalo gak di manfaatkan kayu manisnya. Yo wis lah, aku bikin apple pie aja, selain mendadak pengen, juga karena bahannya mudah di dapat di Jambi. Rencanaku sempat mundur beberapa waktu, ntah kenapa naluri baking rada menurun niih, tapi karena bener-bener naksir apple pie, ya udah lah, bikin adza. Kemarin siang aku udah iris-iris applenya, dan dicampur sama lemon dan kayu manis, sku simpan aja di kulkas. Trus sorenya aku nyampur adonan crustnya. Tapi malam tadi Papaku ada rapat sama teman-temannya, ya udah, adonan crustnya aku biarkan aja di kulkas, soale mesti bantu nyiapin makanan dan minuman. Baru tadi pagi aku bikin pie nya. Adonan kulit pie aku biarkan di suhu ruang, dan di roll. Kebetulan ada kak Ika yang nemanin, dia sambil chat sama temanku sekolah ku dulu si Dian yang rumahnya gak jauh dari rumahku, sekarang dia tinggal di Yogya. Senang deh, bikin pie sambil cerita-cerita jaman SMP n' SMA, semua terasa indah *hihi*, gak terasa aja tau-tau pie nya udah selesai di dandanin dan siap buat masuk oven. Waaaah...pas di oven, serumah jadi wangiiii... sampe temen Papaku yang datang pun penasaran aku bikin apaan...hihihihihi....

Aku sendiri di antara semua apple pie, aku lebih suka American apple pie yang tebal dengan isi berlimpah. Standarku untuk apple pie simple aja : kulit mesti buttery dan flaky, sementara isi mesti moist and bubbly, aroma kayu manisnya, jelas gak bisa di tawar lagi. Di situlah letak istimewanya apple pie. Aku paling gak suka kalo di beri apple pie yang di bikin asal-asalan, apalagi kalo isinya kering, iiih...aku bisa off seketika. No thank you deh. Buatku, apple pie dengan isi yang kental dan wangi kayu manis yang "menyolok" bener-bener menggoda, apalagi kalo crustnya terasa butter nya....hum...sooo sooo good!

Waktu bang Riri sekolah di Australia, dia lebih sering makan chicken pie atau beef pot pie. So, waktu dia datang ke tempatku di Atlanta, awalnya dia gak mau makan apple pie, di paksa-paksa, tetap nolak. Baginya, pie harus di isi daging. Tapi akhirnya dia terpengaruh juga ngeliat aku selalu order apple pie, lama-lama dia jadi doyan. Apalagi kalo kita udah ke Johnny Rockets di mall dekat apartemen kita, wuiiiih....pokoknya gak afdhol kalo gak pesan apple pie a la mode nya, kebayang deh apple pie dengan es krim vanilla... pernah kita sampe di ingatkan sama waiternya kalo kita udah mesan banyaaak (cinta mati sama burger dan chilli fries dengan extra cheesenya), eeeeh...masih minta pie. Pas semua makanan ludes, waiternya sampe kagum dan nanya kenapa kita sampe lapar sekali...padahal, kitapun terpaksa duduk rada lama, kekenyangan...whoa ha ha ha ha


Untuk resep pie, aku suka banget sama resepnya Martha Stewart yang ada di websitenya Oprah Mulai dari kulitnya, sampe ke isinya, udah mantap sekalee. Bikinnya pun gampang banget. Tapi, jangan sampe ada detail yang kelihatan sepele sampe lupa di lakukan. Misalnya, jangan menguleni terlalu lama dan harus menyimpan dough kulit pie di kulkas minimal 1 jam sebelum di gunakan. Kalo gak, waaah...bakalan sulit kulit pienya buat di gilas dan harus pasrah sama kulit pie yang keras. Kalo itu di ikuti, di jamin dapat kulit pie yang lentur dan gampang buat di letakkan di loyang. Trus jangan lupa juga buat meletakkan potongan butter di dalam pie sebelum di tutup, ini pengaruh banget ke rasa dan aroma filling pie nantinya. Untuk fillingnya, karena aku suka pie yang manis sedikit asam, perasan lemonnya aku pake sedikit saja, hanya untuk mengcover apple supaya gak berubah warna. Gulanya aku tambah jadi 1 cup, dan aku pun gak pake tambahan bumbu lain selain kayu manis yang aku tambah porsinya. Yep, I love cinnamon and I am proud to show it in my pie...hihihihi... Apaaaa cobaaa!

Kalo bikin pie tutup begini, jangan lupa untuk melubangi bagian kulit atasnya supaya uapnya bisa keluar. Bisa dengan membuat sayatan di beberapa tempat, atau seperti caraku yang aku lubangi dengan cutter bunga mungil. Sisa pinggiran kulit pie jangan di buang, dengan kulit pie seenak resep tante Martha ini, sayang banget kalo di buang. Gilas aja lagi dan potong dengan cutter lucu. Tempel dengan kocokan telur, selain bikin pie jadi cantik dan unik (personalized bangeeet!) juga bermanfaat buat menutupi bagian-bagian yang kurang cantik...hihihihi... Jangan lupa juga untuk menunggu hingga benar-benar dingin sebelum di potong. Supaya fillingnya bisa set dulu, jadinya tetap cantik waktu di potong.


By the way,
Naluri berbagiku lagi tinggi nih *duileeee!*. Kebetulan di rumah kayu manis Kerinci masih banyak, aku mau share ke teman-teman yang baca blogku yang pengen nyobain juga. Don't worry, kayu manisnya aku minta koq sama Papa ku, jadi gak nilep...hihihi... caranya, mudah banget. Cukup tulis comment di bawah posting ini (di bagian comment posting ya, BUKAN di shout box), tempat wisata apa, yang mau di kunjungi seandainya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi Jambi. Ingat ya, tempat wisata di Jambi, bukan berkunjung ke rumah Ortuku...nanti Papaku malah bingung...hahahahaha...

Bagi 10 orang yang menulis comment pertama, masing-masing aku kirimkan 25 gr kayu manisnya. Cukuplah untuk mencoba beberapa resep yang ber-cinnamon-ria. Eiiitsss...sekalian deh aku kirim juga 100 gr kopi Jambi supaya kuenya nanti ada temannya dan gak only the lonely. Jadi, jangan lupa, sertakan alamat email ya, supaya aku bisa contact buat alamat pengirimannya. O ya, aku cuma ngirim ke alamat di Indonesia ya, kalo ada yang tinggal di luar negeri, silahkan kirimkan alamat kemana cinnamonnya mau di kirimkan di Indonesia. Bisa bangkrut bayar ongkos kirim kalo mesti ngirim ke luar negeri...hehehehe...

Hampiiirrr lupa, ini resep apple pienya yaaa...




OLD-FASHIONED APPLE PIE
Martha Stewart
Oprah.com

Servings: Serves 10—12
Ingredients
Pâte Brisée
  • 2 1/2 cups all-purpose flour
  • 1 tsp. coarse salt
  • 1 tsp. sugar
  • 1 cup (2 sticks) unsalted butter , cut into pieces
  • 1/4 to 1/2 cup ice water
Pie
  • 2 Tbsp. all-purpose flour , plus more for dusting
  • 12 peeled, cored and sliced Granny Smith apples
  • 3/4 cup sugar (aku pake 1 cup) , plus additional for pie top
  • 1 lemon , zested and juiced (aku setengah lemon aja)
  • 1 1/2 tsp. ground cinnamon
  • 1/2 tsp. ground nutmeg (gak pake)
  • Pinch ground cloves (gak pake)
  • 2 Tbsp. unsalted butter
  • 1 large egg , beaten
Directions
To make pâte brisée: Combine flour, salt and sugar in the bowl of a food processor. Add butter and process for a few seconds until the mixture resembles coarse meal, about 10 seconds. Add ice water in a slow, steady stream, pouring it through the feed tube just until the dough holds together. Do not process for more than 30 seconds.

Turn dough out onto a work surface. Divide into 2 equal pieces, and place on 2 separate sheets of plastic wrap. Flatten, and form 2 disks. Wrap, and refrigerate at least 1 hour before using.

To make apple pie: Heat oven to 375°. On a lightly floured surface, roll out pâte brisée into two 1/8-inch circles to a diameter slightly larger than that of an 11-inch plate. Press one pastry circle into the pie plate. Place the other circle on waxed paper, and cover with plastic wrap. Chill all pastry until firm, about 30 minutes.

In a large bowl, combine apples, sugar, lemon zest and juice, spices and flour. Toss well. Spoon apples into pie pan. Dot with butter, and cover with remaining pastry circle. Cut several steam vents across top. Seal by crimping edges as desired. Brush with beaten egg, and sprinkle with additional sugar.

Bake until crust is brown and juices are bubbling, about 1 hour. Let cool on wire rack before serving.


Thursday, November 18, 2010

Kue Bangket Jahe


Gak terasa aja, acara Bangket Week yang di selenggarakan oleh my favorite milist, NCC ,akan berakhir 2 hari lagi. Acara week-weekan emang acara yang diadakan secara berkala, seru deh, dan rugi banget kalo aku gak ikutan. Dari awal di umumkan, aku udah semangat mau nyoba bermodifikasi-ria bikin kue bangket aneka rasa yang unik-unik. Tapi keinginanku berubah (padahal, emang malez repot aja..hehehe), aku malah tertarik nyari resep yang authentic, se-asli mungkin. Yuuuup....kue bangket emang kue tradisional Indonesia yang menurutku (menurutku lho ya...!) ada di hampir seluruh wilayah Indonesiaku tercinta. Hanya saja, kadang campurannya, namanya maupun cara pembuatannya saja yang beda. Pada dasarnya, bahan utamanya selalu sama, yaitu sagu.

Aku sendiri suka kue bangket, well...suka sampe ngefans banget juga gak, tapi kalo ada, ya gak nolak...hehehehe...biasanya yang paling suka kue bangket itu Papaku, soalnya gak pake mentega. Singkat cerita, waktu di Jakarta, aku jadi ingat maedo Zaila ku (ingat gak? beliau yang ngajarin aku bikin bolu kering), dia pasti punya resep bangket andalan. Trus kalo gak salah, maedo ku (Maedo = Bibi) itu pernah cerita kalo dia bisa bikin kue bangket Jahe...pas banget kan??? hum...beberapa kali aku mau telpon Maedo buat nanya resep, tapi, ntah kenapa aku lupa mlulu. Sampe akhirnya aku pulang ke Jambi buat ber-Idul Adha. Untung aku gak nelpon, karena, serunya justru waktu belajar langsung, gak kebayang gimana nyetaknya kalo hanya di terangin via telpon.

Setiap Idul Adha, setelah sholat Ied, seperti biasa, aku dan abang-abangku akan ke kampung Papaku di desa Matagual. Kalo aku sering bilang pulang ke "dusun" ya artinya ke sana...(soalnya ada yang bilang ke aku, dia bingung baca blog ku, pulang kampung ke Jambi, trus pulang ke dusun juga. Udah kampung, ke dusun lagi...hehehehe). Gak jauh koq, kira-kira 2 jam lah dari kota Jambi. Disana Idul Adha lebih terasa, karena selain ngeliat acara kurban, kadang ada lomba perahu, panjat pinang dan bola kaki antar desa. Yang seru, akan ada sop tulang kerbau kurban yang enaaaakkkkkkk banget yang di masak rame-rame. O ya, kalo di Jambi, kerbau lebih familiar dibanding sapi, harganya pun lebih mahal. Makanya, kerbau termasuk hewan kurban juga.

Anyway, Idul Adha kali ini, aku ke dusun misi nya lain. Yoiiiiiii...apalagi kalo bukan belajar bikin kue bangket jahe sama maedo ku. Walaupun maedo sempat terkaget-kaget karena mendadak, tapi dia senang-senang aja, lagian, semua bahan selalu stand by di rumahnya. Kebetulan ada si Nella, keluargaku yang dulu pernah ikut tinggal lama di rumah maedo, yang nawarin buat bantu. Alhamdulillah, urusan marut kelapa, sangrai kelapa dan tepungnya, beres semua sama si Nella (sementara aku dan iparku kak Ika, ketiduran di ruang tengah rumah Maedo yang adem..hihihihi). Setelah semua beres, baru deh kita ke dapur, mulai bikin heboh di dapur. Maedo ku seperti biasa, gak pake takaran. Tapi aku ingat-ingat aja ukuran bungkusan bahan yang di gunakannya.

Kalo mencampur bahannya, gampang banget, cuma campur-campur aja. Yang penting, sagu dan gula halusnya di ayak, supaya gak menggumpal. Nah, yang seru, nyetak kuenya. Aku dan kak Ika sempat cekikikan waktu ngeliat maedo bawa sapu lidi. Kirain mau ngapain, gak taunya, buat nyetak kuenya....hahahhaha.... dont worry, maedo ku memang punya stok lidi yang dia ambil sendiri, trus di ikat seperti sapu, khusus untuk bikin kue. Jadi gak di pake buat nyapu lhooo...hehehehe... aku suka deh ngeliat kue yang di cetak dengan cara ini. Selain guratan-guratannya, kue yang tadi di kepal-kepal, setelah di cetak, jadi ramping memanjang dengan sendirinya....rustic n' uniiikkk!!!

Susahnya, bikin kue bangket ini bener-bener ngabisin waktu. Sudahlah urusan gongseng meng-gongseng, mesti di cetak pula. Bayangin, mulai dari si Yen yang datang sambil gendong anaknya yang lucuuuuu banget, trus si Meri sempat mampir, sepupuku yu' Niar yang ikutan nyoba, sampe si Mas yang akhirnya nongol setelah menghilang keliling dusun, urusan cetak mencetaknya gak selesai juga...hiiiks... Terpaksa deh, sisa adonan yang gak selesai di bawa aja ke Jambi. Huu..padahal pengen banget nginap di sana, tapi kita mesti pulang, karena keponakan ku si Dea mesti sekolah hari ini.

So, tadi pagi, aku pengen nyoba bikin sendiri. Si Topo langsung tak suruh beli bahan-bahannya, termasuk beli sapu lidi baru. Duileeee...si Topo beli sapunya serius amat, sampe pake tangkai segala. Emang mau nyapu halaman apaaa...tapiii, udah deh, di pikirin ntar. Yang penting, bikin aja dulu. Ngegongseng kelapa emang bener-beneeeeeerrrr...keringatku sampe bercucuran mangkal di depan kompor. Rasanya kayak endless job deh *lebay*. Tapi dengan semangat tinggi plus 2 piring lontong sayur sisa lebaran kemarin, selesai juga urusannya. Semua yang aku buat, aku catat ukurannya. Terutama ukuran air yang di butuhkan. Ternyata, airnya sedikit sekali, karena fungsinya, hanya untuk melembabkan adonan sedikit, supaya bisa di kepal dengan tangan.
Pas nyetak, si Mas yang baru turun dari beresin lantai atas ikutan duduk di meja, trus ngeliat aku kebingungan mau pake sapu si Topo yang segede bagong, si Mas ingat kalo di atas ada sapu lidi baru yang masih di plastik. Alhamdulillah, sapunya gak terlalu besar dan ringan. Setelah di lap bersih-bersih, langsung deh aku pake buat nyetak kue. Loyang pertama, di cicip si Mas dan dapat jempol...horreeeee...lanjuuutttt!!!

Kue ini teksturnya kering di luar, rapuh di dalam. Pas masuk mulut...bleeesss...langsung lumer. Beda dengan kue bangkit biasa yang menggunakan santan, kue bangket jahe ini justru menggunakan kelapa parut yang di hancurkan. Aroma kelapanya bikin wangi (pas di panggang, serumah bisa nyium wanginya kelapa lho...). Kulit ari kelapanya gak perlu di buang sebelum di parut, bintik-bintik hitam dari kelapanya bikin penampilan kue lebih menarik. Lama pemanggangan, menentukan keras atau lembutnya kue bangket. Makin lama, makin keras. Kalo aku, cukup hingga berubah warna jadi putih buram, tapi Papaku lebih suka yang kekuningan rada gosyong. Jadi, ya suka-suka aja. Gak usah khawatir kalau setelah di panggang terlihat retak-retak, memang seharusnya begitu.

By the way, kata maedo Zaila, kue ini bisa koq di cetak pake cetakan kue biasa, tapi memang cara yang dia pelajari cara cetaknya pake lidi. Kalo aku, emang pilih pake lidi, soalnya, makin keliatan asli makin asiiiiiikkkk....hehehehe...

Ini resepnya ya :



KUE BANGKET JAHE

by Maedo Zaila-nya Camelia

Bahan :

1 butir kelapa, parut
5 cm jahe, parut (makin banyak, makin terasa, sesuaikan dengan keinginan saja)
1 btr telur
1 kg tepung sagu, sangrai, dinginkan, ayak
500 gr gula halus, ayak
200 ml air

Caranya :

  • Gongseng kelapa, campur dengan jahe parut hingga kering ke coklatan. Dinginkan. Tumbuk/blender halus. Masukkan ke dalam baskom.
  • Masukkan gula halus dan sagu ke dalam campuran kelapa. Sisihkan.
  • Kocok telur dengan garpu, lalu masukkan ke dalam campuran kelapa
  • Tuang air sedikit-sedikit sambil di aduk rata dengan tangan. Setelah rata, adonan siap untuk di cetak.
  • Kepal adonan hingga tingginya lk. 3 cm, letakkan di tengah-tengah ikatan lidi, tutup lalu putar seperti memeras, buka, dan letakkan di loyang beri sedikit jarak. Lakukan hingga adonan habis.
  • Panggang dalam oven suhu 180 C selama lk. 15 - 20 menit atau hingga kue berubah warna. Biarkan dingin, lalu sajikan.
PS : Fungsi air hanya untuk melembabkan saja supaya adonan dapat di kepal atau di cetak. So, gak perlu banyak.

Mudah-mudahan bisa di mengerti ya... *hug*


Saturday, November 13, 2010

Margherita Pizza

Siapa sih yang gak suka cheese pizza? kalo ke resto pizza, aku selalu pesan cheese pizza, gak perlu lah pake acara baca menu segala, apalagi baca toppingnya yang bikin bingung. Dari dulu aku emang udah suka cheese pizza. Ini gara-gara teman baikku waktu kuliah di Atlanta, Shannon, yang bikin aku selalu milih cheese pizza. Dia paling gak suka pizza nya ada isi macam-macam apalagi daging. Paling jauh, dia pesan vegetarian pizza, padahal, dia gak vegetarian lho (cinta mati sama steak malah..hehehe). Ini cocok sama aku, yang gak bisa makan Pepperoni pizza (yang jadi favorite anak-anak lain), jadi kalo ada pizza night, aku selalu patungan sama Shannon dan Corey (kalo dia pasrah aja..hahahaha). Dengan segala kemampuan si Shannon bernegosiasi dengan warung pizza langganan (waktu itu Pizza franchise yang ngetop itu terasa mahal), kita suka di kasih extra saus garlic buat celup-celup pinggiran pizza...hummm...enyaaaak...

Kemarin abis bongkar-bongkar foto-foto yang mangkal doang di flash disk, ketemu foto lagi jalan-jalan sama gank kuliah di London ke Italy bareng...aku jadi ingat sama pizza margherita yang sering aku beli selama liburan di sana. Selain harganya yang murah dan ukurannya guedeee, juga karena aku gak bisa bahasa Italy, paling aman langsung bilang "margherita" ketimbang harus nanya ada babi apa gak...hehehehe... Yep, margherita pizza termasuk jenis pizza yang paling simple, hanya saus tomat, mozzarella dan daun basil. Katanya, ini pizza favorite ratu Margherita, dan juga, putih dari mozzarella, merah dari saus tomat dan hijau dari basil, seakan-akan menggambarkan bendera Italia.

Untuk crust pizza, aku lebih suka Italian pizza yang tipis dan agak crunchy. Lebih enak karena roti nya gak mendominasi rasa. Kalo di tarik...humm... mozzarellanya bisa ke mana-mana. ..nyam! nyam! So, mulai deh kemarin aku bikin-bikin pizza. Kebetulan semua bahan ada dan bikinnya, simple koq. Gak ribet dan lumayan cepat. Percaya deh, kalo udah nyoba pizza bikinan sendiri, pizza yang ada di resto pizza terasa biasa ajaa.... *gak lebay*...hihihihi.. untuk pizza dough, aku pake resepnya Jamie Oliver. Aku udah cocok sama resep ini, gak masalah mau bikin pizza yang tebal atau yang tipis, sama enaknya. Bikinnya gampang dan kemungkinan gagalnya kecil sekali. Bahan yang di pakai juga gak ada yang ribet, jadi bisa di bikin kapan aja.

O ya, selain aku gak punya loyang pizza dan gak akan muat juga masuk oven listrik mungilku, adonan pizza aku letakkan di atas loyang yang di balik aja. Cara ini lumayan efektif bikin kulit pizza lebih krispy. Jangan heran kenapa pizza ku gak bulat, selain aku gak bisa bikin bulat yang rapi, aku juga ngasal abis kalo ngegilas pizza...yang penting tipis dan enaaaak...*ngeles*...hihihihihi... untuk mozzarellanya, jangan pelit-pelit, dengan topping se-simple ini, mozzarella dan basil, benar-benar berperan menentukan kelezatannya. Untuk saus tomatnya, aku pake caraku sendiri, lebih simple dan cocok sama orang yang malas berurusan dengan kompor seperti aku...*giggles*, olive oil jangan di ganti minyak lain, aromanya bisa beda nantinya. Tomato paste, jangan juga di ganti dengan saus tomat (ketchup), rasanya bisa bedaaaaaaaaaa banget....

Sisa pizza dough nya, aku bulat-bulatkan seukuran 1 pizza (porsiku), lalu aku taburi tepung. Setelah semuanya selesai di bulat-bulatkan dan di beri tepung, aku simpan dalam plastik, 2 dough ball dalam 1 plastik. Masukkan 1 adonan pizza, plintir plastiknya, masukkan satu lagi, supaya gak saling nempel. Setelah itu, masukkan ke freezer. Pagi ini, aku keluarkan satu, biarkan di suhu ruang. Setelah itu di gilas seperti biasa, gak ada perbedaan rasa pizza crust hari ini dengan kemarin. Pizza dough yang di bekukan, bisa tahan lk. 3 hingga 4 minggu.


Ini resepnya :


MARGHERITA PIZZA



PIZZA DOUGH
Jamie Oliver

1kg strong white bread flour or Tipo ‘00’ flour
or 800g strong white bread flour or Tipo ‘00’ flour, plus 200g finely ground semolina flour (aku pake 800 gr tepung terigu protein tinggi aja)
1 level tablespoon fine sea salt
2 x 7g sachets of dried yeast (aku pake 14 gr ragi instant)
1 tablespoon golden caster sugar
4 tablespoons extra virgin olive oil
650ml lukewarm water

Sieve the flour/s and salt on to a clean work surface and make a well in the middle. In a jug, mix the yeast, sugar and olive oil into the water and leave for a few minutes, then pour into the well. Using a fork, bring the flour in gradually from the sides and swirl it into the liquid. Keep mixing, drawing larger amounts of flour in, and when it all starts to come together, work the rest of the flour in with your clean, flour-dusted hands. Knead until you have a smooth, springy dough.

Place the ball of dough in a large flour-dusted bowl and flour the top of it. Cover the bowl with a damp cloth and place in a warm room for about an hour until the dough has doubled in size.

Now remove the dough to a flour-dusted surface and knead it around a bit to push the air out with your hands – this is called knocking back the dough. You can either use it immediately, or keep it, wrapped in clingfilm, in the fridge (or freezer) until required. If using straight away, divide the dough up into as many little balls as you want to make pizzas – this amount of dough is enough to make about six to eight medium pizzas.

Timing-wise, it’s a good idea to roll the pizzas out about 15 to 20 minutes before you want to cook them. Don’t roll them out and leave them hanging around for a few hours, though – if you are working in advance like this it’s better to leave your dough, covered with clingfilm, in the fridge. However, if you want to get them rolled out so there’s one less thing to do when your guests are round, simply roll the dough out into rough circles, about 0.5cm thick, and place them on slightly larger pieces of olive-oil-rubbed and flour-dusted tinfoil. You can then stack the pizzas, cover them with clingfilm, and pop them into the fridge.


SAUS PIZZA
Camelia

5 sdm tomato paste (bukan saus tomat ya..)
8 sdm olive oil
1/2 sdt oregano
1/2 sdt merica hitam (sesuaikan aja rasanya)

Caranya :
Aduk semua bahan hingga benar-benar rata, siap buat dioleskan....simple kaaaaan???

Penyelesaian:
Gilas dough hingga ketebalan yang di inginkan (kalo aku lk, 3 - 4mm), diamkan selama 15 menit, olesi dengan saus pizza. Taburi dengan keju mozzarella, lalu beri daun basil di sana-sini (rada banyak aja, karena daun akan mengkerut nantinya). Panggang lk 10 hingga 15 menit.... keluarkan dari oven (ovenku pake suhu 180 C) enjoy!!!


Friday, October 29, 2010

French Toast with Srikaya Pandan




Sedih banget ya, rasanya gak habis-habisnya Indonesia-ku dilanda bencana alam. Gempa dan tsunami di Mentawai dan di susul dengan meletusnya gunung Merapi tanggal 26 lalu, benar-benar menyentuh hati. Mudah-mudahan para korban bencana tersebut di berikan kesabaran dan kekuatan untuk bangkit kembali, dan semoga, kejadian ini mempererat rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia. Amiiin. Sudah saatnya, kita melupakan perbedaan dan memusatkan fikiran untuk membantu bangsa kita sendiri. Itu jauh lebih penting dan lebih bermanfaat kan?*big big hugs*

Kemarin lusa, si Muna main lagi ke rumahku. Akhir-akhir ini, dia emang rajin main ke rumah, sejak ketularan hobi main ke dapur...hihihihi...*rasain!*. Nah, agendanya, kita bikin pempek n' mau nyoba bikin sloppy joe, makanan favorite di cafetaria jaman high school...hehehehe... diantara sibuknya ngurusin pempek. Aku tetap berniat bikin selai srikaya, selain emang pengen, aku juga mau nyoba option "Jam" di breadmaker happy-go-lucky ku....hahahaha... so, saat si Muna sibuk ngurusin cafeworld dan bakinglifenya *hihi* aku mulai bikin srikaya. Resepnya pake resep ala Ibuku aja, semua 1:1:1 praktis. Tinggal gunakan mangkok yang sama, 1 mangkok telur, 1 mangkok santan, dan 1 mangkok gula. Kalo mau pake mililiter juga boleh...samain aja semuanya. Jadi deh. Tapi ini selai srikaya ala Sumatra yang maniiiiissss banget, kalo mau, kurangi aja jumlah gulanya. No problemo.

Selai srikaya ini favorit banget deh di kampung Papaku di desa Matagual, Jambi. Biasanya, di pasangkan dengan lepat yang selalu ada kalo lebaran, atau acara-acara besar lainnya, termasuk kalo lagi ada acara kumpul-kumpul keluarga. Lepat di Jambi beda sama lepat atau lepet yang ada di Jakarta. Kalo lepat yang aku kenal, rasanya asin rada gurih. Di buat dari ketan dan santan yang di bungkus dengan daun pisang seperti lontong. Trus di rebus lama sampai matang dan kelihatan seperti lontong ketan (gak kelihatan berasnya lagi). Naaaah, nanti di potong-potong miring, dan di sajikan di piring mungil sama srikaya. Kalo pulang ke dusun, waaaaah....jangan sampe gak kebagian lepat. Kalo srikaya habis, lepat bisa langsung di cocol ke rendang...asik juga...*ngiler* tapi kalo aku gak pernah khawatir kehabisan, biasanya, maedo Zaila ku selalu menyisihkan beberapa batang lepat untuk aku, dia tau banget kalo aku suka...hehehehe...

Kalo srikaya di dusun juga enak banget. Bentuknya gak smooth, tapi bergerindil dan berminyak (karena pake santan rada kental dan dimasak lama di atas api) rasanya maniiiiis banget dan wangi karena pakai air pandan asli. Pokoknya enyak...enyak...enyak...!! Resepnya, ya sama sepeti yang diajarkan Ibuku, bedanya, kalo di dusun dimasak di atas api kecil dan diaduk-aduk terus, aku pake breadmaker trus aku tinggal buat nonton tv...hehehehe...trus pake santan asli, sedangkan aku pake santan instan kotak aja. Iiih, rada nyesal juga gak pake santan beneran, rasanya enak tapi gak seenak pake santan segar. Untuk pandannya aku pake esens pandan instead of daun pandan. Selain gak punya daun pandan, aku juga rada malas kalo mesti bikin air pandan dulu *gak heraaan!*. Supaya bentuk srikayaku keliatan rada keren *duile*, setelah matang, srikaya kan kelihatan bergerindil (nah, kalo di dusun, ini udah jadi dan siap dimakan), setelah dingin, aku ikut cara yang banyak beredar di internet, srikayanya aku blender pake hand blender (pake blender biasa aja bisa koq). Jadi deh selai srikaya yang mulus n' siap buat dioleskan ke roti.

Karena gak ada lepat (mesti nunggu ke Matagual dulu, belajar sama maedo Zaila...hehehe) tadi pagi aku sarapan srikaya pake french toast aja. Kalo ke Jambi, coba deh mampir ke toko kopi "Bogor Baru", di kawasan pasar, di sana jual roti telur (bahasa Jambinya roti telok *haha*). Pada dasarnya roti yang di goreng dengan telur dan di sajikan dengan srikaya homemade yang enaaaaakkkk banget. Srikayanya kecoklatan karena gak pake pandan tapi rasanya...sooo tasty!! prasaan warung kopi itu udah lama deh, aku sering beli dari jaman SD kalo gak salah. Rotinya tebal n' empuk, tapi telurnya terasa banget dan rada berminyak (mungkin itu yang bikin enak..hehehe). Kalo french toast versi ku ini, pake roti wheat, lebih light dan hanya menggunakan sedikit minyak. Beautiful breakfast!


FRENCH TOAST WITH SRIKAYA PANDAN
Camelia



SRIKAYA PANDAN

Bahan :
1 mangkok telur
1 mangkok gula (sesuaikan manisnya)
1 mangkok santan sedang (boleh santan segar, ataupun kotak, makin kental, makin terasa)
1/2 sdt garam
air pandan aatau essence pandan

Caranya :

  • Dalam wadah, whisk telur dengan santan hingga benar-benar rata, masukkan gula, dan garam, aduk rata.
  • Masukkan campuran tadi ke dalam panci, masak sambil diaduk-aduk dengan api yang kecil sekali (agar tidak matang karena banyak mengandung telur) hingga bergerindil halus atau masukkan ke dalam breadmaker, tekan tombol JAM (kalo punyaku, butuh waktu 1 jam 20 menit).
  • Angkat, dinginkan.
  • Blender hingga halus (bila suka).

FRENCH TOAST

Bahan :
1 btr telur
100 ml susu segar
1 sdt gula
1/2 sdt vanilla extract
5 lembar roti tawar (aku suka wheat bread)

Caranya :
Dengan whisk, kocok telur, masukkan susu, gula dan vanilla extract, kocok rata. Ambil roti, celupkan kedua permukaannya dengan adonan telur (jangan sampai terendam). Panaskan di atas wajan yang sudah di olesi sedikit margarin (hanya supaya gak lengket aja), biarkan hingga kecoklatan, balik hingga ke dua sisi matang. Angkat dan sajikan.

Monday, October 25, 2010

Ayam Kretek


Pertama kali makan ayam kretek waktu ada latbar NCC Jaksel di rumah mba' Yanti di Tebet. Waktu itu mba' Nina Herlina bawa ayam kretek buat makan siang kita. Rasanya...waaah, mengejutkan! sulit di gambarkan dengan kata-kata *cieee* pokoknya enak deh. Pedaaaas banget, tapi empuk. Waktu itu, mba' Nina udah ngasih tau cara bikinnya yang ternyata gampang banget. Akhirnya beberapa bulan lalu di milis pun heboh sama ayam yang super duper pedas ini, aku ikutan juga nyimpan resepnya, tapi baru hari ini di niatin buat bikin. Gara-gara si Mas kemaren ngomong pengen ayam panggang utuh yang hampir tiap malam dia beli selama umroh *hihihi*. Karena aku belum nemu resep ayam ala Arab dan juga rada malas nyari-nyari dulu, so, pilihanku jatuh ke ayam kretek ini. Pas juga di freezer ada ayam yang aku beli, rencananya mau praktek bikin ayam kodok, abisnya sejak latbar ayam kodok di rumah mom Elly duluuuuu banget, gak pernah bikin lagi. Tapi si Mas kayaknya emang lagi kepengen ayam panggang yang utuh, ya udah, ayam kodoknya di tunda dulu.

Pagi-pagi, aku udah nitip mba' Nur buat beliin cabe rawit hijau di pasar tradisional dekat rumah. Senang deh lihat cabe yang di beli mba' Nur seger-seger banget. Hum...bahan yang di butuhkan untuk bikin ayam kretek ini simple banget, cuma cabe rawit ijo, bawang putih dan garam. Pada dasarnya, bumbu utamanya ya cabe rawit ijo, makanya pake rawit yang segar is a must. Aku jadi ingat sama resto ayam franchise yang jual chicken peri-peri. Aku sukaaaaa banget sama ayam itu. Waktu masih di asrama di Inggris dulu, hampir tiap minggu aku cari-cari alasan buat beli. Aku juga pernah lihat di tv, cara membuat chicken peri-peri. Hampir seperti ayam kretek ini. Bedanya, ayam peri-peri itu pake cabe rawit yang berwarna, minyak zaitun, dan bubuk bawang putih. Sama simplenya. Bedanya, peri-peri di bakar di bara api, jadi rada kehitam-hitaman gitu. Kalo ayam kretek, di bungkus dengan aluminium foil dan di panggang di oven.

Kali ini, aku pake cara kombinasi antara peri-peri dan kretek...*giggles*... Semua pembuatannya aku ikut resep ayam kretek, tapi saat aluminium foilnya di buka dan ayam di panggang lagi, ayamnya aku olesi pake minyak bawang putih. Maksudnya supaya ayamnya gak kering dan kelihatan shiny n' sexy *lebay*...hihihi... Minyak bawang putih ini, aku taunya dari mba' Nadrah waktu kursus bikin aneka mie. Bikinnya gampang, bawang putih di cincang (atau di blender aja), trus goreng dengan minyak yang rada banyak hingga kekuningan. Naah, minyaknya ini enak di pakai buat numis, campuran mie ayam, soto atau dalam kasusku ini, buat olesan. Tinggal di masukkan ke wadah kaca atau mangkok dan bisa di simpan semingguan lebih di dapur.

Kalo di resepnya, rawit sama bawang putihnya di tumbuk kasar, tapi aku tadi pake blender aja, biar cepat..hehehe... trus ngelumuri ayam dan ngisi perutnya dengan campuran rawit, aku pake sarung tangan plastik. Kebayang panasnya tangan kalo gak..hehehe.. lha, pas di blender aja udah terasa pedasnya. Bagian perutnya setelah di isi, aku tutup dengan beberapa tusuk gigi supaya gak kebuka nantinya. Setelah di bungkus aluminium foil, aku letakan diatas loyang dulu, baru masuk ke oven. Lega banget aku gak langsung masuk ke oven tanpa loyang, ternyata airnya banyaak...bisa-bisa mba' Nur mesti nyikat oven lagi...hahaha... Setelah di panggang 1 jam, lapisan aluminiumnya aku buka bagian atasnya. Ini yang bikin aku ngerti kenapa ayam jadinya empuk dan tasty banget. Karena di dalam foil itu, airnya ayam keluar, jadi ayam seperti di steam dengan airnya sendiri. Selama di oven...wuiiih...wangi rawit menyebar ke penjuru rumah...hehehe...

Kesalahanku tadi, ada di time management. Ayam yang rencananya buat makan siang, terpaksa mundur buat makan malam... itu pun baru beres hampir jam 8 malam. Ini bikin aku 'terpaksa' ngancam si Mas gak boleh makan dulu dan harus nunggu sampe ayamnya matang...hahahahahaha.... Pas ayamnya jadi, si Mas udah semangat mau makan, tapi eiiits...tunggu, mau di foto dulu. Sayang fotonya terburu-buru, karena si Mas udah nungguin dan dia sempat komen "Aduuh..udah nunggu matangnya lama, mesti nunggu di foto lagi..."..hihihihihi... tapi dia suka koq ngeliatin aku foto-foto, kadang ikutan ngasih saran ini itu supaya fotonya mendingan. Cuma kali ini aku gak tega juga lama-lama, akhirnya di foto ala kadarnya aja...saking buru-burunya, sampe gak ngeliat ada potongan foil yang nempel di ayamnya...hehehehe

Hasilnya??? si Mas suka tuh...dia makan sampe keringatan kepedasan. Kalo aku, senangnya, keren banget deh pas aku motongin ayam diatas meja...berasa banget jadi Nyonya...whoa ha ha ha ha ha...



AYAM KRETEK
Ny. Karnelih Hiya (Ibu mertuanya mba' Nina Herlina)


Bahan :
1 ekor ayam (tanpa ceker dan kepala)
250 gr cabe rawit hijau
8 butir bawang putih
1 1/2 sdm garam kasar
kalo aku----> tambah beberapa sendok minyak bawang putih

Caranya :
  • Bersihkan ayam. Lumuri dengan jeruk lemon (untuk menghilangkan bau amis). Diamkan selama 15 menit. Lalu siram dengan air bersih.
  • Tiriskan airnya dengan lap kering (kalo aku pake tissue...hehehe)
  • Ulek bawang putih asal aja, lalu masukan cabe rawit, ulek kasar (Aku pake blender aja, di bikin rada kasar)
  • Masukkan garam kasar, aduk rata.
  • Siapkan aluminium foil, bentangkan dan letakkan ayam yang sudah di keringkan.
  • Masukkan cabe rawit kedalam perut ayam, sisakan secukupnya untuk di baluri ke badan ayam. Sematkan lidi untuk mencegah campurannya keluar. (selama proses ini, jangan lupa pake sarung tangan ya...panas euy!)
  • Sisa cabe di lumuri ke badan ayamnya, agar meresap. Bungkus ayam dengan aluminium foil. Lalu simpan di kulkas bagian bawah selama lk. 5 jam.
  • Keluarkan dari kulkas, biarkan dalam suhu ruangan, lalu bakar ayam selama 1 jam (kalo aku sebelum masuk oven, foilnya aku tusuk2 dulu dengan pisau).
  • Setelah itu buka ujung-ujung foilnya dan panggang lagi selama 30 menit hingga kecoklatan. (Kalo aku, foilnya di buka bagian atasnya, olesi dengan minyak bawang. Masukkan ke oven, sambil sesekali dioleskan minyak bawang lagi dan di siram dengan air yang ada di loyang hingga ke coklatan)
  • Sajikan
Hot! Hot! Hot!

Sunday, October 24, 2010

Bubur Sumsum

Hari ini memang rencananya kita mau nyantai aja di rumah. Gak tau kenapa, gak ada angin gak ada hujan, pas aku lagi asik-asik nonton tv, si Mas masuk ke kamar ngomong kalo dia pengen makan ayam seperti di Mekkah dulu dan pengen bubur sumsum! walaaah...si Mas aya-aya wae ya! kalo ayam, sulit buat di wujudkan, mendadak siiih....tapi kalo bubur sumsum??? kenapa bubur sumsum??? padahal aku itu ngebayangin si Mas itu minta tiramisu, chocolate mousse atau creame brulee.... ini malah minta bubur sumsum???? hiiiks!!!..yah, susah deh kalo punya suami sukanya makanan tradisional, sementara istrinya suka nyobain bikin aneka cake. Kaya'nya blog ku akan segera di penuhi aneka jajan pasar nih...hihihihi...

Walaupun begitu, aku malah ikutan kepengen juga bubur sumsum juga. Langsung aja aku bilang sama si Mas, tak bikinin. Padahal, seumur-umur gak pernah bikin bubur sumsum (cuma penikmat doang)...tapi tengsin kan kalo bilang gak bisa. Apalagi, sejak merit baru kali ini si Mas ngomong minta dibikinin makanan tertentu *ehem*. Aneh juga kalo permintaannya aku cuekin seperti waktu dia minta aku berbagi space lemari dulu..*hihihi*.... So, diam-diam, aku buka website NCC pake blackberry, biar gak ketahuan si Mas....dan Yipeeee...ketemu!!!

Aku lupa deh kapan terakhir kali aku makan bubur sumsum. Rasanya udah lamaaaaa banget. Kalo jaman SD dulu, ya sering. Dulu waktu aku dan abangku Riri masih SD, pulang sekolah kita cuma istirahat di rumah beberapa jam saja. Setelah itu, kita lanjut lagi ke Madrasah dan baru pulang sekitar jam 5 sore. Nah, pulang Madrasah, kita langsung menuju teras kamar tidur ortuku yang menghadap ke kolam. Di sana udah ada makanan dan teh manis untuk kami. Makanannya macam-macam, kadang ada bubur kacang ijo, bubur ketan item, bubur rang rang, bubur sumsum, ketan plus kelapa, lepat, kolak...pokoknya ganti-ganti, gak pernah gak ada, minimal pisang goreng. Karena ortuku keduanya sibuk seharian, pas lagi nge-teh itulah Ibu dan Papaku mulai nanya-nanya urusan sekolah, ngasih segala macam nasehat atau kadang cuma ngobrol ringan dan ketawa-ketawa aja. Hummm...rasanya kangen banget sama suasananya...simple dan familiar sekali.

Anyway, karena si Mas sepertinya benar-benar menunggu buburnya *hihihi*, segera mba' Nur aku suruh beli tepung beras dan santan instan di warung belakang. Untung juga beberapa hari lalu sempat beli gula jawa, jadi tinggal bikin aja. Karena gak ada daun pandan, bubur sumsumnya aku tambahkan pasta pandan, jadinya bubur sumsum hijau...hihihihi....yang penting pandannya terasa. Kalo aku suka bubur sumsum yang lembut dan lebih mirip custard yang kental. Jadi selama diatas api, adonannya aku aduk terus supaya gak menggumpal dan hasilnya smooth. Sayang gula jawa yang aku beli gak begitu oke, gak wangi dan mesti di saring berkali-kali. Santannya pun gak segurih kalo pake santan asli (yang biasanya bikin bubur sumsum rada keabu-abuan) tapi lumayanlah, dari pada mesti marut kelapa, meres santan segala...hari geneeeeee.....whoa ha ha ha...

Setelah selesai, si Mas aku panggil dan dia langsung ngajak kakaknya, mas Bambang buat nge-bubur bareng. Alhamdulillah, dia suka dan mas Bambang juga suka, katanya kalo di Singosari (kampungnya si Mas di Malang) buburnya putih...hihihihi....yang penting enak!! Mulai sekarang, tepung beras masuk daftar belanja barang yang harus aku stok di rumah. Just in case kalo si Mas minta kue ataupun makanan tradisional lagi, apalagi kalo bikin bubur sumsum, dia bisa minta kapan aja. Gampang siiih....hihihihi....



BUBUR SUMSUM
Fatmah Bahalwan


Bahan Bubur :
100 gr tepung beras putih (siap beli)
600 - 700 ml santan (hasil campuran 1 kotak santan instant dan air)--> aku pake 1 kotak santan kara dan 600 ml air
1 sdt garam
1 lembar daun pandan --> aku gak pake tapi aku tambah pasta pandan secukupnya

Caranya :
Campur semua bahan menjadi satu, aduk hingga benar-benar licin supaya nanti tidak menggumpal. Lalu masak di atas api sedang sambil diaduk hingga mendidih dan meletup-letup.

Bahan Kinca :
250 gr gula jawa/aren
1 cangkir air
1 lembar daun pandan

Caranya:
Masak semua bahan hingga gula larut. Saring dan sajikan.

Friday, October 22, 2010

Cookie n' Cream Cheesecake

Kemarin, pagi-pagi one of my best friend sejak kuliah, si Muna datang ke rumah...duileee... tumben banget mpok Muna bangun pagi, lumayan, akhirnya bikin aku ngebut mandi juga...hehehehe... Kirain waktu dia bilang mau main ke rumah, cuma basa-basi aja. Apalagi doi udah 2x ganti hari, so, senang sekalee akhirnya datang juga. Dia langsung dapat hadiah. Abisnya waktu pulang dari Malang lalu, aku kan nginap di rumahnya, si Muna aku ajarin bikin cupcake, dan dia enjoy banget menghias cupcake pake buttercream dan fondant. Beberapa hari lalu, pas ke toko buku, aku belikan buku " 3 jam mahir membuat dan menghias cupcake & mini cake" nya mba' Peni buat si Muna. Menurutku, ini pilihan buku yang pas banget buat dia. Supaya bisa tambah rajin bakingnya gituuuu. Syukurlah kemaren dia hepi banget sama bukunya. Sampe gak mau di buka plastiknya, dia cukup baca punyaku aja...hahahaha....Ya iyalaahh... Peni Respati gitu lho....

Anyway...
Karena Muna datang dan kayaknya dia lagi semangat belajar baking, mulai deh kita mikir mau bikin apa. Pilihanku jatuh sama cheesecake...ehem... soale masih ada creamcheese Anchor sekilo di kulkas sisa lebaran lalu. Apalagi aku janji sama si Mas mau ngabisin bahan-bahan kue yang aku punya, pas kaaan??? ogah rugi banget deh gue...hihihihihi...Kali ini aku pake resep Blueberry Cheesecake dari buku resep keluaran milis NCC ku tercinta "60 Resep Cake & Cookies Antigagal". Lega banget akhirnya resep-resep NCC yang biasanya di website akhirnya di bukukan. Mudah dibawa ke dapur. Biasanya ke dapur bawa blackberry buat ngeliat resep, saking malasnya ngeprint...hihihihi... Setelah berhaha hihi, dilanjutkan sarapan a la mba' Nur (my new assistant tuh...hehehe) sambil ngebahas gosip mutakhir, kita minta di antar pak Di ke supermarket gede dekat rumah buat beli sour cream dan selai.

Waktu di supermarket, kita muterin tempat aneka selai, ceritanya mau beli selai blueberry. Trus pengen selai raspberry juga...pokoknya banyak deh... trus aku ingat di salah satu cafe, mereka jual cookie cheesecake dan aku suka deh. Apalagi, base cheesecake ini pake cookies juga, jadi tambah mantap. Ternyata si Muna setuju, selai langsung batal, di ganti dengan tambahan Oreo buat cheesecake-nya.. Sampe rumah, leyeh leyeh bentar, baru deh mulai bikin. Bikin cheesecake asik juga lho. Apalagi pas ngancurin cookiesnya...hehehe... seru! Si Mas pun sesekali ngeliatin kita bikin-bikin. Si Muna rajin deh ngoles-ngoles loyang, sampe rataaaaaaa banget...hahahaha... Setelah adonan cheesecake jadi, aku mau cheesecake ku bener bener nge-kukis *apa cobaaaaa*.... maksudnya, biar kelihatan jelas kalo ini cookie cheesecake. Pas masukan adonannya, aku pake centong besar, satu centong adonan, trus aku taburi dengan biskuit Oreo yang sudah di hancurkan, lalu adonan lagi... Oreo lagi...adonan lagi...gituuuuu terus sampe habis. Aku pastikan bagian paling atas itu adonan, supaya cheesecake tetap kelihatan cantik nantinya.

Setelah di oven dengan cara au bain marie, sukaaaaaa banget ngeliat cheesecakenya gak turun ataupun retak. Perfect! tapiiiiii...ooops, belum bisa di makan. Harus didiamkan dulu sampe dingin dan harus di masukkan ke kulkas selama 3 jam....si Mas yang "terkompor" Muna buat nyicipin kue dan berkali-kali nanya udah matang belum, terpaksa kecewa dulu...hehehehe... Selesai urusan cheesecake, si Mas nawarin kita jalan n' nonton, kebetulan mas Bambang, kakaknya si Mas sedang ada di rumah juga...cihuuuy....!! langsung kita siap-siap ke plaza senayan. Sampe sana, eeeehhhh... si Mas malah ogah nonton dan milih nongkrong di starbuck sama mas Bambang, jadinya yang nonton cuma aku dan si Muna aja....Uuugh....tapi hepi juga, ternyata film yang kita pilih lumayan bagus dan sangat girly, si Mas gak bakalan suka...hehehehe... o ya, sambil nungguin waktu 30 menit sebelum film di mulai, aku sama Muna jalan ke Sogo food hall nyari Oreo mini (ukurannya seperti koin) yang duluuuu banget pernah aku lihat ada di sana. Alhamdulillah, ternyata ada, hampiiiir aja meleset kalo gak ngeliat di dekat kasir, maklum, belanja ngebut...hehehehehe...

Dari senayan, kita pulang. Si Muna aku ajak nginap di rumah. Si Mas tidur sendiri dulu (yang di sambut dengan kata *horee!* dari si Mas...hehehehe...). Waaaah, seru deh, semalaman ngobrol!satu hal yang udah lama banget gak kita lakukan dan aku juga di ajarin main bakinglife sama mpok Muna...asiiiik! (jangan sampe ketagihan kaya' fase cafeworld dulu..*hihi*) Nah, pagi tadi mulai heboh. Suara yang kedengaran cuma "Woiii, tolongin dooong.." atau "Waduuuh krimnya jatuuuh" atau "iih...panaaassss"....kacau banget dah...hahahaha... Mulai dari bikin meringue yang kurang kaku, sampe pas nyemprot pinggirnya pake blow torch. Aku udah pernah nyoba pake blowtorch waktu bikin JCC di Jambi buat hantaran lebaran lalu. Tapi, selalu ada masalah api-nya ngerusak alas cake. Ternyata, harus di tahan dengan spatula lebar (aku pake kape) supaya api gak bersentuhan dengan alas. Jadinya, cantik deh. Agak gosong, soale setelah aku, mpok Muna juga di paksa nyoba (dia awalnya ogah, takuuuuutttt...) jadinya 2x blowtorch...tapi tetep cantik, item manis...hihihihi... *alesan*

Nah, pas di dekor, namanya berganti, gak sekedar cookies cheesecake, tapi jadi Cookies n' Cream Cheesecake. Soalnya, cream di tengah biskuit Oreo, aku olesi ke bagian atas cheesecake tipis-tipis, supaya aku bisa menaburkan Oreo yang di hancurkan diatasnya....maksa banget ya...biar sama dengan rasa es krim favoritku hahahaha... di tambah hiasan dengan whipcream dan Oreo kecil-kecil yang imut-imut...so cool!!! rasanya enaaaaakkk banget! super cheesy!! lebih enak lagi waktu aku sama Muna menikmatinya sambil nge-teh tawar hangat..waaah, bener-bener afternoon yang menyenangkan bersama sahabat tercinta. Tadi kita juga sempat ngebayangin kalo cheesecakenya akan lebih keren kalo di sajikan pake fruit coulis yang dibuat dari buah beneran... apalagi waktu di food hall kita ngelihat plum, peach dan aneka berries...waaah, pasti enak banget ya. Terutama buat yang gak begitu suka cheesecake yang kejunya "medok"...yummy!




COOKIE N' CREAM CHEESECAKE
Camelia (modified from NCC Blueberry Cheesecake)


Bahan :

250 gr biskuit Oreo, hancurkan (sisihkan creamnya)
100 gr biskuit Oreo, hancurkan
100 gr margarine, lelehkan
200 gr gula pasir
4 btr telur
1 kg cream cheese
250 gr sour cream
250 ml whipping cream (optional)
1 sdm gula halus
1/2 sdt vanilla extract

Cara membuat :

1. Siapkan loyang bongkar pasang diameter 24 cm, olesi mentega, sisihkan.

2. Tuangi margarine leleh dan vanilla extract, ke dalam 250 gr biskuit yang telah di hancurkan. Aduk rata.

3. Masukkan adonan biskuit pada loyang, ratakan dan tekan berlahan hingga padat. Bekukan dalam freezer selama 10 menit.

4. Kocok gula dan telur dengan mikser kecepatan tinggi hingga kental. Masukkan cream cheese dan sour cream bergantian sambil di kocok terus.

5. Tuangkan sebagian adonan kedalam loyang yang dilapisi biskuit, taburi dengan 100 gr Oreo yang telah di hancurkan, tuangkan adonan lagi, lakukan bergantian dan di tutup dengan adonan. kedalam loyang yang beralas biskuit, lalu panggang dengan cara au bain marie selama 90 menit hingga matang.

6. Angkat, dinginkan di suhu kamar hingga dingin betul. Lalu dinginkan kembali ke lemari pendingin selama 3 jam.

7. Olesi bagian atas cheesecake dengan krim tengah biskuit. Taburi dengan sisa biskuit yang telah di hancurkan. Hias dengan meringue, whipped cream dan mini Oreo.


Monday, October 18, 2010

Billy's Vanilla, Vanilla Cupcakes


Eheeem...aku suka banget usil sama keponakanku yang masih ABG, si Sonia. Dia itu apa-apa patokannya selalu tv. Kalo ada di tv dan lagi nge-trend, siap-siap aja, dia gak bakalan berenti bikin ribet Datuknya (Papaku) atau Bibi-nya (ya Aku..hehehe). Bahkan kadang-kadang dia rela, ngelurusin rambutku dulu pake hair straightner sampe luruuuus banget kalo lagi ada maunya. Pokoknya dia fashionista deh, beda banget sama Bibinya yang suka gak matching kalo pake baju (untung muat aja...hihihihi). Yaaah....yang namanya sayang sama ponakkan, kadang-kadang dompetku jebol juga ...susah nolak...lagian, aku gak mau donk kalo keponakanku kalah trendi....hehehehe...

Nah, ternyata, aku gak gitu jauh sama si Nia. Bedanya, kalo Nia yang di lihat trend fashion, kalo aku makanan aja...hihihihi... mulai dari pengen punya toko coklat, toko permen, toko es krim, bakery keren, sampe macaroon, semua karena pengaruh film ataupun siaran tv yang aku tonton..*giggles*.. Kalo Nia, dia akan langsung berusaha mewujudkan keinginannya, kalo aku, biasanya cuma musiman doang, sampe ada hal baru yang bikin aku tertarik. Gak heran kalo sampe sekarang aku gak punya toko apa-pun...Whoa ha ha hahaha...*dream on*

Aku udah lama penasaran sama cupcakes ala Amerika, itu lho, yang sering di makan sama the girls di serial Sex in the City atau Lipstick Jungle...(hihihihi...kemakan banget sama tipi). Cupcake yang cuma di hias frosting warna-warna pastel. Frostingnya cuma di oles aja tanpa spuit dan kadang di hias dengan satu bunga mungil atau taburan sprinkes warna-warni. Simpeeeeel banget. Penasaran juga dengar cerita kalo cupcake dari Magnolia Bakery di New York itu, pembelinya sampe antri dan satu orang hanya di batasi satu lusin aja. So, mulailah aku searching keliling dunia maya *cieeeeee* dan ternyata, selain Magnolia, ada juga Billy's Bakery yang jadi saingannya. Walaupun aku akhirnya beli buku resep Magnolia Bakery, pilihan ku jatuh sama cupcake vanilla-nya Billy Reece, yang punya Billy's Bakery.

Bukan tanpa alasan, Billy Reece sendiri diundang ke acaranya Martha Stewart, buat nge-demo-in cupcake buatannya. Katanya, stafnya Martha Stewart keliling New York buat nyicipin cupcake paling enak, dan pilihannya jatuh sama Billy's. Selain itu, juga ada review di sini yang terang-terangan bilang kalo ini lebih enak dari pada Magnolia. So....kapan aku pengen bikinnya????? sejak dua tahun lalu!!!....hehehehe... benerkan aku bilang? aku tuh sebentar aja pengennya, trus aku lupa. So, kemaren aku decided bikin Billy's Vanilla Cupcakes ini. Biar gak penasaran seumur idup. Abisnya kelamaan kalo nunggu si Mas ngajak keNew York buat beli cupcakes...hihihihihi...

Selain itu, kemaren aku juga niatin deh nyoba mikser Kitchenaid yang udah dibeli mungkin 6 atau 7 bulan lalu deh, sebelum merit. Miksernya rada berat, pas mau ngeluarin dari gudang, hampir aja gak jadi, untung ada si Mas yang bantu angkat. By the way, aku emang selalu kagum sama desainnya, bedanya, dulu aku menganggap kitchenaid itu sebagai salah satu produk yang berhasil menjadi salah satu icon American Design (maklum, dulu kuliah desain siiih...hihihi). Baru sekarang ini aku baru ngerti ternyata selain desain, fungsinya juga memuaskan.

Walaupun begitu, aku gak penah punya keinginan beli yang serius. Sampe mom Elly, beli mikser ini. Mom Elly itu gak begitu beda sama aku, sesaat doang..hahaha... Setelah dia beli, baru deh dia nyadar kalo dia itu lebih suka cooking dari pada baking (si Mas kesengsem berat sama Lasagna-nya mom Elly lho...). Boro-boro di pake, bayangin aja, sejak beli, miksernya di tempat yang sama sejak pertama kali masuk rumahnya. So, sama mom Elly, aku di suruh ambil soale waktu dia beli, aku sempat naksir juga sama warna-nya yang merah mentereng. Selain bisa 2x bayar, aku juga dapat harga temen, diskon 200-rb.. hihihi.. semula aku sempat ragu, kan lagi hemat duit buat merit. Berkat komporan dahsyat kak Ika, akhirnya aku ambil juga. Tapi sekarang gak nyesel beli, sepertinya beli barang begini emang mesti di paksakan, kalo gak, gak akan kebeli. Uang bisa habis buat hal-hal gak jelas, ya parfum lah, sepatu lah, makan-makanlah..dana starbuck lah...gawat kaaan??? hahahaha...

Miksernya baru aku jemput setelah lunas, walaupun sama mom Elly sudah di suruh angkut secepatnya (risih kali dia ngeliatnya...hihihi). Duuuh...padahal kita pake acara foto serah terima segala lho...kalah deh serah terima bantuan negara...*giggles*...ntar tak cari dulu deh fotonya, ntah kemana. Sampe rumahku, nasib si KA juga gak beda jauh, langsung masuk gudang, titik. Baru kemaren aku nyoba buat bikin cupcakes. Abisnya, setelah ngeliat video-nya Martha Stewart bikin cupcakes sama si Billy pake mikser KA, aku jadi ingat kalo aku punya...hehehehe...kasian deh gue!

Anyway, so far sih, aku puas sama mikser ini. Well, tipe yang aku punya emang tipe Artisan, bukan yang heavy duty. Tapi udah lebih dari cukup buat aku saat ini. Malah waktu aku bikin adonan cupcakes, aku rada nyesel juga kenapa gak beli dari dulu-dulu. Cepatnya itu lho, trus aku juga gak ribet megangin mikser sambil masukin adonannya. Sebenarnya, mikser Phillips setia ku juga ada standnya, tapi jarang aku pake, rasanya kurang ke aduk aja buatku dan malah tambah ribet bersihin adonan di whisknya. Kalo pake KA ini, aku tetap matiin mesin di tengah-tengah buat membersihkan adonan di pinggir mangkok dan beaternya, tapi keliatan koq kalo semua keaduk rata. Trus aku juga suka ada tutup buat menuangkan tepung atau gula bubuk, jadi bajuku gak berlumuran gula tiap kali bikin cake yang mesti di campur gula halus...hehehehe...

Kesulitannya selain berat karena semua dari besi (kayaknya perlu tempat permanen deh...*ngelirik si Mas minta dapur baru*) juga merubah hitungan waktu pengocokan di resep. Harus lebih hati-hati karena bisa-bisa adonan jadi overbeat atau overmix. Basically, gak boleh termenung deh...hihihihi... plus lainnya, aku suka mangkoknya yang besar dan gampang dingin kalo di masukin ke kulkas. Selain flat beater, juga ada hook beater dan Whisk beater. Semua cukup untuk segala bentuk adonan sesuai fungsinya masing-masing. Untuk ergonominya, aku kasih jempol deh, karena gak hanya mengandalkan desain tapi juga safety. Kelebihan lainnya, aku pernah ngeliat di tv, katanya mikser KitchenAid ini, mau keluaran tahun berapapun, tetap bisa pake spare part yang sama dengan sekarang. Lega kan? Gak sabar deh pengen nyoba buat roti. Penasaran pengen liat hasilnya, mudah-mudahan gak kalah sama breadmaker murah meriah ku dulu...*ngarep*

Kembali ke cupcakes ku...
Bikin cakenya gampang banget, gak perlu banyak bikin cucian baskom dan kawan-kawan. Butternya, aku masukkan ke kulkas, setelah sekitar 10 menit di luar ruangan, baru aku pake. Hasilnya juga enak, lebih lembut di banding resep vanilla cupcake lainnya. Sampe hari ini cakenya tetap lembut dan vanillanya bikin wangi (aku pake vanilla extract Durkee).Terasa agak manis, tapi si Mas suka. Katanya, emang manis, tapi dia juga udah tau rasanya pasti manis, jadi gak kaget kalo cupcakenya manis *lho..???*...hihihihi... tapi kalo bikin lagi, jumlah gulanya pasti akan aku kurangi, supaya pas di tambah frosting, manisnya bisa seimbang.

Naaaah...yang jadi masalah frostingnya...
Dibuat dari butter beneran (I love butter!!), tapi jumlah gulanya gila-gilaan banget... 6 sampe 8 cup! pas aku bikin, aku berhenti setelah 4 cup gula. Hasilnya??? frosting yang manisnya bikin aku kaget...wuiiihhhh...manis beneeeerrr.... gimana kalo 8 cup ya??? Gak tahan sama manis-nya, bisa-bisa aku ngajak si Mas ikutan diabet juga... ck..ck..ck... Gak kebayang deh buat yang beli selusin, aku bikin yang mini aja, susaaah banget ngabisin satu saking manisnya. Mungkin emang bener deh, beda budaya, beda rasa. Buat orang Amerika mungkin biasa aja kue yang manis begini. Sampe bela-belain antri.


Akhirnya, cuma beberapa yang aku kasih frosting, sekalian belajar pengen nge-frost cupcake pake spatula, supaya mirip cupcakenya Carrie...hehehe...berhasil, walaupun gak seragam. Sisanya aku simpan di kulkas aja sambil aku pikirin bakal buat apaan. Karena aku suka rasanya yang buttery, next time aku akan bikin lagi, tapi, jelas gulanya akan aku kurangi banyaaaak....karena ada susu (yang ternyata bikin butternya agak putihan), mungkin sebaiknya setelah butter di kocok dimasukkan gula sesuai kemanisan yang di inginkan, baru susu, supaya pas kentalnya.


BILLY'S VANILLA, VANILLA CUPCAKES
Billy Reece, Billy's Bakery

Cupcakes
Bahan :
1 3/4 cup tepung terigu protein rendah (aku pake kunci biru)
1 1/4 cup terigu protein sedang (aku pake segitiga)
2 cup gula
1 sdm baking powder
3/4 sdt garam
1 cup mentega tawar (potong-potong)
4 btr telur ukuran besar
1 cup susu
1 sdt vanilla extract

Caranya :


1. Panaskan oven hingga 325 F. Alasi loyang cupcakes dengan kertas cupcakes. Sisihkan. Dalam mangkok mikser, campur tepung, gula, baking soda dan garam, aduk dengan kecepatan rendah hingga tercampur rata. Masukkan mentega aduk hanya hingga tertutup tepung.

2. Dalam wadah, whisk telur, susu, dan vanilla. Dengan kecepatan mikser sedang, masukkan cairan ke dalam adonan dalam 3 tahap. Bersihkan pinggiran mangkok, setiap tahapannya. Aduk hingga adonan menyatu, perhatikan untuk tidak overbeat.

3. Masukkan adonan ke loyang yang telah di siapkan hingga 3.4 penuh. Masukkan ke oven, di tengah tengah, putar loyang agar rata. Lakukan test tusuk, bila lidi yang ditusuk keluar bersih, artinya matang. Sekitar 17 hingga 20 menit.

4. Transfer ke rak kawat hingga dingin. Cupcake siap di hias.


Buttercream
Bahan :

1 cup mentega tawar, suhu ruang
6 - 8 cup gula confectioner (aku pake iceng sugar 4 cup, masih kemanisan)
1 cup susu
1 sdt vanilla extract

Caranya :

Dalam mangkok mikser, kocok mentega hingga lembut dan creamy, sekitar 2 hingga 3 menit. Dengan kecepatan rendah, masukkan gula, susu dan vanilla, kocok hingga ringan. Gunakan sisa gula untuk mendapatkan konsistensi yang di inginkan.

So... gak perlu ke New York kan???...hehehe...



Wednesday, October 13, 2010

Moroccan Almond Macaroon



Ini salah satu proyek "bangkotan" yang pengen aku bikin. Video-nya aja, udah setahun mangkal di laptopku, teteuuupp aja gak di bikin-bikin. Semula, aku nyimpen resep ini gara-gara patah hati sama French macaroon. Udah berkali-kali bikin, dengan aneka resep, hasilnya selalu flat, yeup, lebih mirip keripik telur ketimbang cookis gembul yang chewy....hiiks! Sampe sekarang, aku masih ogah berurusan sama macaroon ala Perancis yang memang kesukaanku itu. Naaah, pas aku nyari resep macaroon lain, ketemulah dengan resep Moroccan almond macaroon. Semula, aku tertarik abis ngeliat video pembuatannya. Gak tau karena yang bawanya terkesan charming *hehe* atau memang sepertinya gak sulit bikinnya. Tinggal cemplung semua bahan ke dalam baskom, buletin, panggang, jadi deh. Apalagi bahannya cuma sedikit, gak ribet. Sebenarnya, bahan buat bikin French macaroon itu juga gak ribet, tapiiiiiiiii...aku aja yang gak bisa....whoaaaaaa....*nangis kenceng*

Sudah berkali-kali aku ke toko bahan kue beli almond untuk bikin kue ini. Karena di Indonesia susah nyari almond yang ada kulitnya (kalau adapun di supermarket barang import yang harganya, masya Allah...) sempat aku kepikiran mau pake almond bubuk aja, trus aku juga ketemu almond utuh yang udah di kupas, bisa di pake buat toppingnya. Tapi tetep aja rada ogah-ogahan karena yakin bentuknya pasti beda. So, pas umroh lalu, kita berkunjung ke kebun korma. Di sana aku ngeliat ada almond utuh sekalian kulitnya, aku main ambil aja 2 kilo... walaupun udah diingatkan si Mas takut kebanyakan, biarin aja, kadang aku kalo semangat suka gak tanggung-tanggung...hihihihi...

Aku suka banget sama almond. Dulu, aku gak suka karena rasanya aneh. Ternyata yang aneh itu essence almond. Kalo almondnya beneran sih enak. Apalagi buat di tabur-tabur diatas cake atau brownies. Selain tambah cantik, crunchy-nya bikin beda. FYI, almond itu mengandung lemak yang baik buat tubuh lho, bagi yang diet tapi suka nyemil, boleh deh pertimbangkan nyemil almond dibandingkan kacang lainnya. Of course, almondnya cukup di panggang (toast), kalo di goreng, minyaknya bikin almond gak sehat lagi (apalagi setelah itu di taburi msg...ampuuuun deh!). Mudah-mudahan suatu saat nanti, almond bisa di berdayakan di Indonesia dan harganya jadi jauh lebih murah supaya orang Indonesia sehat-sehat...amiiiinnn..ehem...

So, tadi aku mulai praktek bikin kue almond ini, ternyata beneran gak sulit. Kacangnya aku tumbuk pake chopper hand blender yang aku punya. Aku suka banget pake hand blender, soalnya praktis. Penah juga aku pake buat ngegiling ikan waktu bikin pempek, hasilnya cukup halus. Pas lah buat aku yang belum punya usaha kuliner dan belum punya keluarga gede, itung-itung nunggu tabungan penuh buat beli food processor segede gaban yang lebih canggih..hehehehe... fotonya seperti di bawah ini, selain chopper, dapat whisk sama kocokan milk shake yang sepertinya juga bisa di pake buat bikin mashed potatoes. Tipe yang aku punya ini Kenwood wizzard pro. Waktu aku beli, merk ini yang watt-nya paling rendah (400 watt).

Setelah almond di giling, bahan lainnya tinggal di campur aja, termasuk kulit jeruk lemon (yang ternyata memang sangat berpengaruh sama rasa cookies, terasa lho, jangan sampe lupa ya). Untuk putih telurnya, di kocok hingga kaku, tinggal di aduk ke adonan berlahan dengan sendok kayu. Nyetaknya juga lumayan menyenangkan, sebentar udah selesai. Awalnya aku malas banget ngolesin tangan dengan minyak sayur sebelum membulatkan adonan. Ternyata membantu sekali, adonan jadi gak lengket lagi di tangan. Pemanggangannya di sarankan 15 menit, tapi itu tergantung oven masing-masing. Oven ku butuh waktu 25 menit.

Pas matang, cookies harus di biarkan dulu di atas loyang sebelum diangkat, kalo gak, di jamin ancur (sudah terjadi sama aku tadi soalnya..hehehe). Pemakaian silpat atau baking sheet sangat di sarankan, biar gak sulit ngelepasnya dari loyang. Seperti yang udah aku duga sebelumnya, macaroon ala Marocco ini manis seperti dessert dari negara-negara timur tengah lainnya (buatku sih biasa aja, tapi buat yang gak suka manis, bisa kemanisan).Tekstur cookiesnya, rada kering di bagian luar, tapi sangat chewy di bagian dalam. Rasanya mirip nougat almond. Tadi sempat juga aku manggangnya lebih lama (hingga ke coklatan) eeeh...ternyata enak juga tuh, lebih krispy! dan ini juga salah satu cara meminimalisir rasa manisnya.

Di bawah ini resepnya setelah aku terjemahkan dengan bahasa ku sendiri. Untuk ukuran, aku memang tidak mengkonversi ke gram. Di timbangan digital kan ada opsi Oz, jadi aku tinggal ganti aja, ribet euy kalo mesti pindah ke gram dulu.



MOROCCAN ALMOND MACAROON
www.cookingwithalia.com

Bahan :
12 oz almond utuh
6 oz gula bubuk
2 btr telur
1 lemon ukuran kecil
1 sdt baking powder
1 tbsp cooking oil for rolling
beberapa almond utuh untuk hiasan

Caranya :
1. Giling almond di dalam mesin penggiling hingga menjadi bubuk almond yang halus (kalo aku sengaja rada kasar, supaya terasa tekstur almondnya).

2. Parut kulit jeruk lemon

3. Pisahkan kuning telur dan putih telur

4. Campur kuning telur dengan bubuk almond, gula bubuk dan kulit jeruk lemon parut serta baking powder.

5. Kocok putih telur hingga kaku .

6. Campurkan putih telur kedalam adonan kuning telur. Gunakan tangan untuk mencampur adonan untuk memastikan semua bahan tercampur rata.

7. Olesi tangan dengan minyak goreng, lalu bulatkan adonan, gempengkan sedikit dan letakkan di atas loyang yang telah dialasi kertas loyang. Lalu beri almond utuh diatasnya untuk dekorasi.

8. Panaskan oven pada suhu 350F dan panggan selama 15 menit.

P.S : Ketika panas, macaroon memang terasa sangat lembut, teksturnya akan berubah mengeras setelah dingin.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...